Membaca Buku-Buku Rio

Membaca Buku-Buku Rio

Pernah membaca buku Rio? Ya, pernah, dong! Setelah mengenal beberapa tulisan Rio di dinding kampus, corat-coret di milis, note facebook, blog—dan entah di mana lagi—rasanya memang tak ingin melewatkan setiap tulisannya. Setiap ada tulisannya yang barupublicized, rasanya jadi ingin mencari tahu apakah dia masih tetap Rio atau tidak. Atau, apakah gaya komik parodi betmennya juga diberlakukan di tulisan itu atau tidak. Atau, ide apa lagi yang dia bawa. Atau, kejenakaan apa lagi yang dia bawa. Atau, bagaimana dia menertawakan berbagai hal di sekitarnya. Atau, untuk sekadar tahu apakah tulisannya bisa membuatku tersenyum di antara kekesalan-kekesalan yang seharian pada arisan di sekelilingku.

Berapa banyak buku Rio yang sudah saya baca? Baru enam. Note-nya di facebook? Banyak. Apalagi statusnya. Ocehannya yang saya dengar langsung pake telinga? Tidak banyak. Setidaknya, hingga saat ini total durasi obrolanku dengannya belum sampai 5% dari total masa hidupku di dunia.

Ada beberapa hal yang sangat berkesan pada tulisan-tulisan Rio. Salah satunya adalah typo yang sempat kukira bakal abadi, yaitu penulisan \…ng…\ dan \…ngg…\ yang saling tertukar. J Typo lain kayaknya bener-bener karena salah ketik, sedangkan beberapa kekeliruan lain mungkin lebih tepat dikatakan sebagai efek penguasaan EYD yang belum kaffah.

Well, setidaknya, typo dan kekeliruan lain—termasuk tanda baca—itu hanya mengganggu bagi pembaca yang sangat-sangat memperhatikan dan menguasai EYD. Toh kebanyakan pembaca [tulisan Rio, saat ini, kukira] bukan dari jenis itu. Kebanyakan pembacanya adalah kaum yang biasa membaca dan mengetik di ponsel dan media sosial di dunia maya, media yang memang tidak mengajak orang untuk memperhatikan ejaan, tanda baca dan sejenisnya. Jadi, lupakan saja tentang typo dan sejenisnya itu.

Gangguan lain yang tak perlu dirisaukan adalah lay out. Jujur saja, saya tidak begitu paham kenapa kadang-kadang ada bagian bawah halaman bukunya kosong, padahal itu bukan ujung dari sebuah chapter. Kekurangpahaman ini bukan karena ini buku terbitan sendiri, tapi karena [ngakunya] buku ini dicetak berdasar pesanan. Jadi,kalau copy buku yang kuterima adalah cetakan ke sekian, mustinya ada banyak kesempatan untuk memperbaiki. Tapi sudahlah, mungkin lay out ini memang sudah satu paket dengan editing: sama-sama nggak dikoreksi. Atau, mungkin Rio nggak mau diprotes oleh pembeli-pembeli pertamanya jika pembeli yang belakangan justru dapat karya dengan kualitas editing dan lay out yang lebih bagus.

Lagipula, kekurangan di kedua sektor ini jelas bukan urusan Rio selaku penulis. Yang bertanggung jawab untuk kekurangan tersebut adalah editor dan lay outer. Seperti yang tercantum di bagian depan buku, bahwa penulis buku adalah Muh Rio Nisafa, sedangkaneditinglay out, desain cover dan entah apa lagi dikreditkan pada nama-nama lain—yang kukira fiktif. (Jujur saja, saya hanya mengira nama-nama itu adalah anagram setelah sekilas melihatnya; sampai saat menulis ini saya sama sekali belum mencoba membuktikannya karena merasa masih ada hal lain yang lebih kusukai untuk kukerjakan).

(Jika benar nama-nama itu adalah anagram-anagram dari nama penulis, maka saya anggap pencantumannya sebagai ekspresi kerja serabutan yang dia akui di prolog [atau apa?] buku “Pendawa ….” Artinya, Rio memang mengerjakan penulisan, editing, desain cover danlay out buku-bukunya, tapi dia hanya serius di penulisan; dia ungkapkan itu dengan menuliskan namanya dengan benar. Sedangkan untuk pekerjaan lainnya dia kerjakan secara serabutan alias semrawut; seperti semrawutnya huruf-huruf pembentuk namanya yang mengatasnamai pekerjaan-pekerjaan lain itu.)

Ambil saja positifnya: bila gangguan di editing dan lay out itu mengganggu keasikan membaca, anggap saja itu kesempatan atau tambahan waktu untuk lebih mendalami kejenakaan yang disampaikan oleh Rio dalam karya-karyanya. Kalo durasi membaca karyanya jadi lebih lama—sekalipun karena gangguan-gangguan itu—berarti anda akan terhibur lebih lama, kan?

Satu lagi, deh. Kadang-kadang saya merasa si Rio ini terlalu mematuhi deadline-nya atau entah target apa. Kadang, saya pikir sebuah paragraf sebaiknya digeser atau ditukar posisi dengan paragraf lain, dan itu terlintas kalau saya membaca naskahnya, bukan menuliskannya. However, bukan saya yang menulis. Jadi terserah penulisnya sajalah. Mungkin dia lebih suka menulis sekali langsung jadi, atau memang gaya menulisnya seperti itu. I don’t judge a book from a single paragraph anyway.

Nah, kenapa dari tadi membahas sisi kurangnya? Well, bukankah menemukan kekurangan orang lain jauh lebih mudah daripada menemukan kelebihan-kelebihannya? Dalam hal ini, saya hanya melakukan hal-hal yang mudah terlebih dahulu. Lagipula, saya perlu pemanasan untuk menulis. Itu saja. ^_^

Baiklah, ini sisi asiknya membaca buku [atau karya-karya] Rio adalah: selalu ada sudut pandang baru [yang jenaka] untuk kejadian sehari-hari. Mungkin Rio terlalu malas untuk mencari-cari tempat baru bagi imajinasinya. Jadi, cukup dengan apa-apa yang dia lihat, dengar, alami, tabrak dan maki sehari-hari saja, di situlah dia manjakan imajinasinya. Itu cara murah meriah mudah untuk hidup bahagia.

Ini meringankan saya sebagai pembaca: saya tidak perlu membayangkan setting yang asing untuk menangkap kejenakaan sehari-hari ala Rio. Kejadian sehari-hari dia kan nggak beda jauh ama kejadian sehari-hari kita juga. Atau, dalam kasus Rio dan saya, paling-paling perbedaannya hanya ada di lokasi sehari-hari saja: dia biasa berada di kisaran S 7° E 110°, saya di S 2° E 115°.

Kejenakaan yang dimunculkan dari kejadian sehari-hari ini mengingatkan saya bahwa hidup ini jenaka—jadi ngapain dipikir serius? Mungkin karena membaca karya-karya Rio juga sehingga si Joker suka bilang, “Why so serious?” Ini juga mengingatkanku pada dekade kemarin ketika terjadi booming buku-buku bertema motivasi atau self-help. Tepatnya, saya jadi teringat pada sebuah buku yang judulnya menentang arus: Hidup Memang Jenaka Maka Santai Sajalah ….

 

Setelah tahu bahwa setiap kejadian yang kita lihat, dengar, alami, maki, tabrak atau hindari sehari-hari itu ada sisi jenakanya, lalu apa asiknya memandang semua itu biasa-biasa saja? Never take anything for granted! Take it for fun! Mending tersenyum geli setiap hari daripada stres memikirkan deadline atau sewa kontrakan.

Asiknya lagi, karya-karya Rio itu sering kali baru terasa jenakanya kalau pembaca mikir dulu atau tahu konteksnya. Itu pertanda jelas bahwa humor Rio bukan humor kosong. Humor bukan semata-mata asal lucu, tapi sebagai warna dalam menyikapi suatu masalah atau fenomena. Saya tidak ingin mengatakan ada kebijaksanaan di balik humor Rio; takutnya bikin orang salah persepsi menyangka buku Rio itu bukan buku komedi, tapi buku filsafat populer.

So, saran saya pada diri sendiri setelah membaca buku Rio adalah: kalo mau menghindari stres atau ngomel-ngomel karena kejadian sehari-hari, jangan hanya membaca buku Rio, tapi ingat-ingatlah setiap saat—dan amalkan—apa yang sudah ente baca dari buku Rio. Ini benar-benar saran saya pada diri sendiri, bukan pada anda. Karena, memangnya anda siapa yang harus saya kasih saran? Untuk anda, mungkin lebih praktis bila dikatakan: jangan hanya membaca buku Rio, tapi juga belilah! (Nyambung atau enggak, keduanya tetap penting.) 😀

Keenam buku karya Rio dan opini saya tentang buku-buku itu saya rangkum seperti ini (urutan sesuai tumpukan buku-buku itu ketika kuletakkan di meja waktu aku mencontek judul-judulnya untuk kutuliskan di sini):

  1. Facebook Love Story ……. Kesamaan nama dan tempat dalam buku ini bukanlah kebetulan semata, melainkan memang disengaja oleh Rio. Ada satu syarat ringan untuk bisa memahami cerita-cerita dalam buku ini: harus akrab ama facebook, jangan [gaptek] kayak pemilik akun komisi8@yahoo.com. Kalo tak mau kecewa  membaca buku ini, lebih baik baca saja sambil menikmatinya, tapi nggak usah menebak-nebak akhir/penutup ceritanya, karena Rio telanjur punya versi yang sangat jarang terpikir oleh orang normal; kalo ditanyakan dalam survei ala famili 100, pasti gak bakal masuk, deh.
  2. Mereka Bilang Gue Playboy ………… Ini khayalan Rio yang jika direalisasikan di dunia nyata akan menimbulkan kerepotan di sana-sini, jadi realisasinya dalam buku ini saja—sehingga serunya tetap didapat, tapi bebas risiko repot. Dalam buku ini Rio bebas sebebas-bebasnya untuk tetap chil**sh™. Boys will always be boys.
  3. Roy dan Joko ……… “Isinya anak kuliahan banget,” begitu jawabku waktu istri saya tanya buku ini bagus atau enggak. Tapi buku ini memang membahas fenomena sehari-hari—dengan gaya sok intelektual ala anak kuliahan semester tanggung dansetting keseharian anak kampus dipajangkan sebagai background agar diskusi-diskusi dalam buku ini menjadi seolah-olah berformat cerpen. Kayaknya isi buku ini memang karya-karya Rio jaman dia masih kuliah di Ngisor Kepel pada abad silam. Donwori, karya Rio pada abad silam ini nggak jadul-jadul amat, kok. Topik-topiknya masih bisa ditemukan di keseharian sekarang. Mungkin saat kuliah itu Rio sedang visioner. ^_^
  4. Pendawa Pendamping Idaman Wanita ………………. Ini cerita tentang serunya masa kuliah. Of course, yang namanya seru bukan hanya di dalam kampus, tapi di mana-mana, asalkan kartu mahasiswanya belum kadaluwarsa. Cerita masa-masa itu pasti seru, tapi lebih seru lagi kalo dibukukan. Nggak percaya? Karena untuk membuatnya buku, setiap cerita harus dibumbui, digoreng, didramatisir. Percayalah, bila dalam buku itu salah satu tokohnya seolah begitu menderita, pada kisah aslinya dia tidak semenderita itu—karena keburu dipaksa ketawa oleh sesama anggota pendawa. Atau, justru jauh lebih menderita karena ketika hatinya sedang hancur anggota pendawa yang lain terasa sangat ringan menertawakannya. Wkwkwkk …. Donwori, beberapa detail yang pengerjaannya kurang teliti nggak bakal terasa mengganggu bila pembaca nggak mengalami sendiri kuliah di almamaternya para pendawa. Kalopun ada yang terganggu, mungkin hanya alumni dan mahasiswa jurusan komunikasi saja—yang tak pernah bisa mengambil kuliah Etika Komunikasi sebelum memiliki adik angkatan.
  5. Fiksimini Facebook ……………… Rio pernah sebegitu kurang kerjaannya sehingga membuat ratusan fiksimini yang seru dan full-of-surprise, lalu memuatnya dalam buku ini. Bacalah tiap hari satu saja fiksimininya, maka anda akan tersenyum sepanjang hari—bila masih mengingatnya. Untuk berjaga-jaga kalo-kalo Rio nggak bikin fiksimini lagi, maka saya sarankan satu fiksimini saja untuk anda baca dalam satu hari, agar anda stoknya cukup untuk setahun penuh, dan ketika sudah habis, anda bisa memulai lagi dari awal; siapa tahu anda sudah lupa fiksimini yang sudah anda baca setahun sebelumnya. J
  6. Tertawalah Bersamaku …………. Buku ini berisi kumpulan naskah stand up comedy; entah berapa di antaranya yang sudah Rio bawakan di atas panggung. Bagi saya, isi buku ini paling realistis dibanding lima buku lainnya karena buku ini bukan cerita tentang siapa-siapa, bukan tentang Rio, bukan tentang teman-temannya, bukan tentang si playboy, bukan tentang betmen. Kesamaan antara buku ini dengan yang lain adalah sama-sama menertawakan kejadian sehari-hari. Hanya saja, buku ini tidak menertawakannya lewat cerita atau diskusi antar tokoh, melainkan langsung menertawakannya begitu saja—melalui sudut pandang dan imajinasi yang unik.

Baiklah, itu saja.

Nah, saya akan menutup opini ini dengan satu kekurangajaran Rio. Ini bukan sisi negatif, tapi betul-betul sisi kurang ajarnya Rio. Saya memang tidak ketemu langsung dengannya untuk membeli bukunya. Saya titip pada seorang teman, dan memberi konfirmasi pada Rio via inbox facebook. So, waktu dia sediakan beberapa copy buku untukku, itu jelas buku pesananku. Saya bayar untuk buku-buku itu, yang berarti buku itu seharusnya disediakan untuk menjadi buku saya, koleksi pribadi saya. Kurangnya ajarnya, belum juga saya ngapa-ngapain pada buku-buku itu, bahkan melihatnya pun belum, Rio ini tanpa merasa bersalah malah sudah mencorat-coretkan bolpennya di buku itu, menuliskan nama dan tanda tangannya. Padahal saya sebagai pemilik buku sah aja belum menorehkan nama saya di situ. Kurang ajar betul si Rio ini!

 

dicopas (ya jujur gue bilang, copas) dari Notes Yois Saputra dengan judul yang sama di https://www.facebook.com/notes/yois-otw-saputro/membaca-buku-rio/10154448283465291

Related Post
Tertawalah Bersamaku : Humor ala Rio

Isi buku ini akan berisikan humor. Tentu humor ala Rio. Anda bisa tertawa bahkan bisa saja marah-marah. Sebab anda merasa Read more

Tertawalah Bersamaku : Review Pembaca

  Ketimbang Raditya Dika, Rio Nisafa jauuuh lebih berani. Melihat kenyataan demikian, saya memaknai Rio Nisafa sesungguhnya mengajak saya menertawakan kenyataan. Read more

Enggak Kuat Puasa

Kata nyokap,  ketika gue kecil  paling susah buat belajar puasa. Iya belajar puasa, karena sewaktu belum sunat, maka sebenarnya gue Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.