Berantem di Bengkel

Berantem di Bengkel

Siang ini gue hampir berantem sama salah mekanik di sebuah bengkel resmi.

Awalnya sih normal, gue ke bengkel daftar ke CS. Kasi kunci sama STNK lalu bilang ganti oli, servis rutin sama menyampaikan sejumlah keluhan lainnya. Misalnya kenapa ada menteri bilang gaji PNS 9 juta, lalu pernyataan dicabut kembali. Kan boleh dong ngeluh.

Lalu gue nunggu di ruang berAC. Untungnya ada TV di sana, jadi gue bisa update acara infotainment alias gosip. Tau gosip kan, temennya Gojek. Kalo Gojek antar kita ke suatu tempat. Gosip antar kita ke neraka karena hibah. Ampuni hamba, Tuhan.

Berita di tv bahas soal video 19 detik. Dari A sampai Z, kasus itu dibahas. Bosen juga sih, tapi mau apalagi, males juga ngeliat seleb pamer rumah dan politikus berebut kuasa. Seolah-olah masalah hidup ini adalah 3A, harta, tahta dan Gisella Anastasia.

Akhirnya gue main hape aja. Mumpung ada free WiFi. Biasa main medsos. Bosen medsos, buka buka podcast. Kali ini bahas tentang kapal yang saling berhubungan. Relationship.

Dalam podcast tersebut, podcaster tentang Teman yang jadi tempat bermain, alias Friendzone. Ia bilang dalam relationship harus dinyatakan bahwa temen atau pacar. Jangan sampai pengennya pacar tapi cuman dianggap teman. Begitu juga sebaliknya. uɐɯǝʇ dɐƃƃuɐı̣p uɐɯnɔ ı̣dɐʇ ɹɐɔɐd ɐʎuuǝƃuǝd ı̣ɐdɯɐs uɐƃuɐſ

Lagi asyik dengerin podcast, tiba-tiba ada yang manggil nama bokap gue. “Pak Santoso…. Pak Santoso Utomo.”

Gue mencari sumber suara tersebut. Jelas bokap gue enggak di bengkel tersebut. Jadi jelas, ini panggilan temen SD ke gue. Tau kan anak SD kalo manggil bukan pake nama sebenarnya, tapi nama bapaknya.

Ternyata yang manggil adalah kepala mekaniknya. ”Pak Santoso…. Pak Santoso Utomo.” Dia memanggil lagi. Gue perhatiin, kayaknya dia bukan temen SD gue. Dari fisik, usianya jauh di atas gue. Kepala mekanik ini udah tua. Mungkin saking tuanya, ia yang nyunatin Firaun.

Gue berdiri dan jalan ke arah kepala mekanik. ” Pak, jangan macam-macam, ya!” Suara gue agak keras.

Eh, dia cuek dan malah manggil lagi, . “Pak Santoso…. Pak Santoso Utomo.”

“Pak, kalo mau ribut jangan di sini,” tantang gue, “di benteng Takeshi atau gunung Midoriyama, gimana?”

Dia makin songong, “Ayuk, tapi setelah Pak Santoso Utomo, ya?”

Makin kesel dong gue. Gelagatnya udah bakal terjadi baku pukul. Tiba-tiba seorang datang, kayaknya pemilik bengkel. Gue nebak gitu, karena wajahnya udah ber-oli, agak-agak berminyak.

“Orang ini kurang ajar,” kata gue sambil nunjuk kepala mekanik, “Enggak sopan, manggil nama bapak saya keras-keras.”

“Oh, begitu.” jawab pemilik bengkel menenangkan, “sudah menjadi SOP di bengkel kami, kalo ada halnyang perlu dikonsultasikan atau disampaikan ke pelanggan, kepala mekanik akan memanggil pemilik motor, sesuai nama di STNK”

“Bilang dong dari tadi,” jawab gue tengsin tapi masih kesel, “kalo gini kan semua orang tau kalo motor yang saya pake masih punya bapak saya.”

Related Post
Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Media Sosial era Ken Arok

Untung aja ya, media sosial kayak Facebook atau Instagram adanya di jaman sekarang. Coba bayangin kalo jaman Kerajaan Kediri atau Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.