Kisah-kisah Bersepeda Yang Jarang Kita Ketahui

Kisah-kisah Bersepeda Yang Jarang Kita Ketahui

Hari Minggu kemarin dan kemarinnya lagi, banyak orang melakukan kegiatan bersepeda. Mereka mengendarai sepeda di tengah pandemi yang belum selesai. Seakan mereka bisa mengatasi pandemi dengan berkeliling kota, meramaikan suasana CFD atau bahkan menuju tempat wisata.

Enggak masalah dengan bersepeda CFD atau Car Free Day, asal itu di masa sebelum Covid-19 menyerang. Jika dua minggu lalu banyak orang bersepeda di jalan protokol bersama sahabat dan sanak keluarga, maka bisa jadi CFD bisa berubah dari Car Free Day menjadi Corona Fun Day. Amit-amit.

Lagian ngapa sih bersepeda di tengah pandemi? Atau mungkin mereka ingin melupakan penyebaran virus Corona yang kita semua tidak tahu kapan berahkirnya. Negara lain mencegah menyebaran Corona dengan karantina, pembatasan aktivitas berdasar usia dan menjaga batas negara. Kita melakukannya dengan bersepeda ria. Penuh suka cita.

 

Bersepeda dan Corona

Mungkin ada yang sebagian dari mereka berpikir bahwa setelah PSBB, pembatasan Sosial Berskala Besar, kita akan memasuki new normal. Bagi sebagian orang, new normal ditandai dengan new bike.

Gue enggak sepenuhnya sepakat dengan pemahaman bahwa new normal adalah proses kita berdamai dengan Covid-19. Ada dua alasan sederhana. Pertama, kalo kita berdamai itu membutuhkan kesadaran dua pihak. Ada dua pihak berkonflik lalu mereka melakukan kesepakatan berdamai. Nah, kita ini sudah berkonflik dengan Covid-19, masalahnya virus itu enggak bisa diajak berdamai. Entitas virus itu enggak bisa diajak mojok, lalu sambil berbisik kita bilang, “damai aja, pak”, Enggak.

Kedua, pengunaan istilah “Berdamai dengan Covid-19” merupakan istilah yang mengawang-awang. Ini bukti bahwa pemimpin kita kurang membumi dengan kebijakan melawan Covid-19. Tidak hanya “Berdamai dengan Covid-19”, ada banyak istilah yang mengunakan bahasa asing macam “Work From Home (WFH)”, “Social Distancing“, “Physical Distancing” hingga bahkan “new normal” itu sendiri.

Bersepeda memang membutuhkan ruang tersendiri. Mudahnya, pesepeda satu berjarak dengan pesepeda lainnya. Kan kita enggak pernah lihat para pesepeda boncengan bertiga kayak cewek cabe-cabean.

Sepeda telah menjadi trend, gaya hidup. Terlepas persoalan gengsi, hobi atau olah raga, orang bersepeda hanya karena ingin dilihat orang. Makanya apa pepatah yang mengatakan “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali mengayuh, dua puluh tiga foto di folder galeri.”

Oya, kalian tahu enggak sih apa persamaan stand up comedian dengan sepeda?
Stand up comedian atau komika dengan sepeda sama-sama punya joke.

Dan inilah kisah-kisah tentang bersepeda yang jarang kita ketahui. Iya, karena namanya juga joke.

 

“Bang, ini mau maju atau mundur” | “Terserah neng aja, yang penting ke KUA” – sumber Google

Sepeda dan Politik Pencitraan

Fenomena bersepeda di tengah pandemi ini mungkin, sekali lagi mungkin telah dibangun oleh kebiasaan Presiden Joko Widodo saat bagi-bagi sepeda. Masih ingatkan saat Pak Jokowi memberikan hadiah sepeda bagi anak-anak yang mampu menjawab pertanyaannnya.

Bisa jadi dengan maraknya kegiatan bersepeda saat ini, Pak Jokowi dengan wajah tenang, akan memberikan akan pertanyaan yang berbeda, “Ayo, sebutkan lima jenis sepeda … lima jenis saja?”

Seorang anak dengan muka polos namun penuh ketegangan menjawab gugup, “Sepeda gunung, sepeda lipat, sepeda balap, sepeda BMX, sepeda fixie.”

Pak Jokowi tersenyum puas dan berkata penuh wibawa, “Bagus sana ambil ikannya”

Bayangan si anak untuk mendapatkan sepeda dari sang presiden tentu sirna. Ia tidak mendapatkan sepeda impian layaknya penyanyi cantik Raisa. Lalu ia akan meminta sepeda kepada kedua orang tuanya.

Begitu pulang rumah, sambil menenteng plastik berisi ikan, si anak berkata kepada papanya, “”Pa, beliin sepeda dong. Tadi saya menjawab pertanyaan pak Jokowi tentang sepeda malah dapat ikan.”

Sang Papa menjawab, “Nak, kamu dapat ikan sudah hebat. Siapa tahu itu pesan tersirat dari Pak Jokowi agar kita tetap bisa menjaga kedaulatan wilayah laut kita. Ikan di laut kita juga sudah diambil nelayan asing, bibit lobster juga sudah boleh dijual ke negara asing dan tidak ada lagi pemberitaan tentang kapal asing yang ditenggelamkan.”

“Tapi pa…,” rajuk si anak, “aku kan ingin naik sepeda kalo ke sekolah.”

Papa mengusap kepala anaknya, sambil menjawab “Nak, kamu lupa ya, kalo kamu itu homeschooling?”

Jaman dahulu, dahulu banget, sepeda identik dengan sosok guru. Bahkan Iwan Fals menyanyikan lagu Umar Bakrie lengkap dengan sepeda kumbang.
Iya, jaman dulu murid ke sekolah jalan kaki. Guru naik sepeda. Jadi tau kan kenapa di belakang nama guru ada SPD.

Bagi anak ini, pepatah “Hidup seperti Roda” adalah basi – sumber Google

Sepeda dan Gombalan

Banyaknya orang bersepeda bisa juga menginspirasi para pemuda untuk melontarkan rayuan ala Sule dan Andre yang marak beberapa tahun lalu. Taukan rayan bapak kamu?.

Ada cowok lagi berduaan sama ceweknya di malam minggu. Lalu si cowok mulai melontarkan rayuan mautnya, “Bapak kamu atlet sepeda, ya?”

Dengan tersipu, si cewek  menjawab, “Kok tahu sih?”

Si cowok lalu menimpali, “habis kamu selalu minta untuk aku genjot sih”

 

Mungkin bapak si cewek memang atlet bersepeda.  Dan sepeda buat atlet sepeda itu pasti berbeda dengan sepeda para bapak-bapak yang sekedar ikut-ikutan trend. Bisa jadi si bapak itu beli sepeda khusus yang memang ditujukan buat berkompetisi. Kejadiannya mungkin di toko sepeda kayak gini.

Atlet sepeda melihat deretan sepeda yang tersusun rapi di toko sepeda, “Mas, saya mau lomba sepeda, bisa carikan sepeda yang bagus, ya.”

Sales sepeda ini lalu menunjuk sebuah sepeda yang terpajang di tengah-tengah, “Ini pilihan yang pas buat kompetisi. Sepeda ini memiliki kerangkanya lebih kuat namun lebih ringan. Oya, sepeda ini berbahan karbon.”

Sang atlet menunjukkan mimik muka yang penuh heran, “Tapi saya mau beli sepeda, bukan mengetik.”

Lalu atlet ini melihat sejumlah sepeda lainnya. Kali ini ia melihat dengan seksama dan memperhatikan label harga yang tertera. “Sepeda balap ini harganya 20 juta. Tetapi kenapa sepeda yang di ujung itu justru harganya 35 juta. Kenapa sepeda itu lebih mahal, padahal modelnya biasa saja?”

Kali ini sales ini menjawab dengan sedikit berbisik, “Harganya lebih mahal, karena kami menuliskan kwitansi dengan harga 3 juta. Biar istri anda mengira bahwa itu harga sebenarnya.”

 

Lanjut ke cerita si cowok dan cewek tadi. Pasangan yang suka gombalan Bapak kamu itu. Singkat cerita si cewek bilang ke Bapaknya yang atlet sepeda itu bahwa cowoknya akan segera melamar.

Si bapak tentu menjawab dengan bijaksana, yakni dengan cara balik bertanya, “Apa kamu yakin menerima lamaran dari Herman, nak?”

Si cewek menjawab tegas pertanyaan bapaknya”Iya, pak. Karena Herman itu hobinya bersepeda. Jadi ia dari keluarga bike-bike”

 

antitesis dari stiker real man use three pedal – sumber Google

Motivasi Bersepeda

Bersepeda mungkin salah satu ketrampilan yang harus dimiliki oleh semua orang.  Bahkan sejak usia balita pun, seorang anak sudah berlatih dengan sepeda roda tiga. Saat TK sudah belajar dengan sepeda roda empat. Dan mulai SD sudah mahir mengunakan sepeda roda dua.

Biasanya orang tua yang mengajarkan kita untuk berlatih mengendarai sepeda. Namun gue beda. Gue bersepeda karena dimotivasi sama Freedy Mercury. “I want to ride my bicycle / I want to ride my bike / I want to ride my bicycle / I want to ride it where I like”

Bahkan motivasi bersepeda ini juga diajarkan oleh orang yang konon memiliki IQ tertinggi sedunia akherat. Albert Einsten. No Debat!

Einsten bilang, “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving“. Mungkin dia seorang pesepeda juga, kalo dia akuntan pasti beda. Biar balance, debit dan kredit harus sama.

Sebagai penutup, tulisan ini akan ditutup dengan sebuah argumen tentang perbedaan bersepeda di masa dahulu dengan masa sekarang. Dulu ada kampanye “Bike to Work”, orang bersepeda untuk menuju tempat kerja. Jaman kekinian sudah berbeda. Sekarang kayaknya dibalik, “Work to Bike”. Kerja keras buat lunasin cicilan sepeda.

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.