Memaknai Nastar dari Perspektif Kebangsaan

Memaknai Nastar dari Perspektif Kebangsaan

Tiga buah nastar setara dengan sepiring nasi. Hmmm… Tahun lalu, fakta ini menjadi sebuah informasi yang begitu viral, sekaligus mempunyai nilai faktual pada masanya. Enggak seperti permohonan maaf yang selalu diulang tiap tahun “jika tangan tak berjabat, jika bibir tak berucap, dan jika kasus Harun Masiku tak tertangkap”

Kalo kemudian lu semua  bertanya apa hubungannya antara Nastar dengan Harun Masiku, ya jawabannya karena gue melihat nastar dalam perspelktif yang lebih luas. Perspektif kebangsaan, dimana nastar itu sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini, khususnya di hari lebaran yang diperingati oleh mayoritas warga negara +62. Kalo lu enggak terima, ya ganti saja tokoh “harun masiku” dengan politisi  lain, atau tokoh lain yang juga belum ditangkap.

sekali lagi, kita sedang membahas Nastar. N A S T A R !

Kita semua tahu bahwa nastar terbuat dari terigu yang kaya karbohidrat. Sama kaya nasi. kaya karbohidrat juga. Sama kayak ketela, jagung, dan gandum; kaya karbohidrat juga. Kalo Raffi Ahmad itu kaya banget.

Iya Raffi Ahmad itu tajir melintir. Anaknya ulang tahun dikasi Alphard. Anak gue ulang tahun aja enggak gue kasi Kind*rj*y. Gue bilang, “itu telor enggak jelas, nak. Harganya mahal… Mungkin itu telornya Dajjal.”

Kembali ke nastar. Sebenarnya kue nastar adalah kue yang bisa nyanyi. Khususnya lagu dangdut… Nastar KDI, “Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu.

Cemilan Kue di Hari Lebaran

Bagaimanapun juga hari lebaran sudah identik dengan beragam makanan ringan yang disajikan di ruang tamu. Ada kue kering macam nastar, kastengel, putri salju, lidah kucing dan sebagainya. Selain kue kering yang ditempatkan di toples bening, kita juga akan menjumpai adanya kaleng biskuit Khong Guan. Iya, kalengnya, soal isinya tergantung kemampuan finasial sang tuan rumah tentunya.

Menurut gue, di setiap rumah minimal ada nastar dan kastengel. Kedua dipilih karena mengambarkan dua cita rasa yang berbeda. nastar dengan cita rasa yang manis asam. Sedangkan kastengel lebih kaya akan rasa asin gurih. Kue kastengel memiliki ras demikian karena terbuat dari keju. Gue sendiri suka keju. apalagi keju-juran pemimpin negeri ini.

Pemimpin negeri ini, para politisi itu, memang patut kita pertanyakan keju-jurannya. Gampang kita membandingkan apa yang ia sampaikan saat kampanye dengan apa yang ia lakukan setelah kursi jabatan diduduki.

Sejarah Kue Nastar

Nastar itu sebenarnya berasal dari bahasa Belanda yakni kata “Ananas” dan “Taart”, yang berarti kue dengan nanas. Jadi nastar itu ya isinya selai nanas, bukan isi-rahat di tempat. Gerak.

Dalam sejarahnya, kue nastar sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Nastar diadaptasi dari kue Belanda, yang biasanya berisi selai strawberry, blueberry atau apel. Cuman karena di Indonesia, jarang ada kedua buah tersebut, makanya diganti nanas. Nanas mempunyai cita rasa yang sama dengan ketiga buah di atas, yakni rasa asam manis. Untung ya, yang dipilih nanas, bukan ikan gurame. Kan ada tuh, gurame asam manis.

Kebayang enggak sih, kalo ada kue isinya ikan gurame. Pas makan kue gitu, tiba-tiba ada yang nyangkut di leher. “Wah, masih ada durinya, nih. Apa karena yang bikin namanya Rafika ya?”

Nastar Belanda vs Nastar Indonesia

Cara olahannya pun beda. Di Eropa, kue dibikin dengan loyang. Namanya juga Taart. Atau pie kalo di Amerika. Di Indonesia, adonan tepung dan selai buah tadi dibentuk bulatan kecil, sekitar 2 centil. Lalu jadilah nastar yang kita kenal sekarang.

Untung aja, adonan tepung ma selai buah tadi enggak dibikin kayak tumpeng. Kan seru tuh, nastarnya dibikin tumpeng. Tiap ada yang datang, dapat satu tumpeng. Dijamin kenyang, kenyang deh.

Biasanya, kue nastar disajikan dalam toples dan disajikan di ruang tamu. Ngomongin toples, kemarin ada temen gue mau beli toples buat lebaran. Untuk referensi toples dia buka google image. Pesen gue sih, jangan salah ketik ya, toples itu “s”-nya 1, jangan diketik 2.

Kembali ke soal Karbo, jadi 3 buah nastar setara sepiring nasi. Biar lebih mantap, sajian di rumah gue bakal jadi 3 nastar plus ayam geprek.

Istilah ‘Tiga buah nastar setara sepiring nasi’ ini diilhami oleh iklan, 3 permen milkita setara segelas susu. Padahal susu itu kan tidak harus dalam wujud gelas, ada yang kotak, ada yang kaleng, ada yang bantal. Iya kan kemasan susu sekarang macam-macam loh.

Setidaknya Nastar dan Nasi ini bisa jadi alternatif obrolan saat ketemu temen lama atau saudara besar yang basa-basi nanya, “kapan kawin?” Inget ya, gue yang udah kawin ini pun bakal mendapat pertanyaan yang serba, “kapan punya momongan lagi?”, “kapan nambah adiknya nih?”, atau “udah follow akun IG tante Ernie belum?”

Nasionalisme dalam Sepotong Kue Nastar

Akhir kata, memang kue nastar bisa kita maknai secara lebih luas, dalam perspektif kebangsaan. Mulai dari kebiasaan masyarakat menjamu tamu di hari lebaran, akultuasi makanan dari era kolonial sampai pada pemaknaan kapitalisme global, dimana nastar juga dijual pabrikan dan dijual di gerai indomaret dan alfamart. Kalo kue nastar saja bisa membuka pemahaman akan beragam hal, seharusnya isu-isu lainnya seperti efektifitas kartu prakerja, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai anekdot Gus Dur tentang polisi jujur bisa memantik diskusi dan perubahan yang nyata bagi negeri ini.

Related Post
Kisah-kisah Bersepeda Yang Jarang Kita Ketahui

Singkat cerita si cewek bilang ke Bapaknya yang atlet sepeda itu bahwa cowoknya akan segera melamar. Si bapak tentu menjawab Read more

Wonder Woman : Refleksi Kelakuan Kaum Hawa

Tahun ini, kita enggak bisa nonton sejumlah film yang direncanakan tayang. Ada pandemi Covid-19 yang membuat bioskop menutup layarnya. Sejumlah Read more

Wajah Kekeyi, Wajah (Demokrasi) Kita

Kekeyi dan politukus setidaknya mengajarkan ke gue, bahwa kita hidup di era angka-angka yang serba dihitung. Setidaknya untuk menunjukkan betapa Read more

Buku-Buku yang Gue Tertawai

Sebagai penulis komedi, gue tentu punya banyak buku komedi. Saking banyaknya koleksi tersebut, gue sampai bisa membandingkan sejumlah buku komedi Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.