Wajah Kekeyi, Wajah (Demokrasi) Kita

Wajah Kekeyi, Wajah (Demokrasi) Kita

Saat tulisan tayang, video klip “Keke Bukan Boneka” masih trending nomer 4 di Youtube. Ini suatu prestasi besar. Kurang lebih minggu yang lalu, video yang sama telah di-take down oleh Youtube. Ibarat kata, ini adalah politisi lama yang kembali ke ajang pemilu dan masih mempunyai banyak suara untuk kembali meraih kekuasaan. Walau terdengar agak basi, tapi masih ada yang memilihnya, atau menontonnya.

Video yang diunggah Rahmawati Kekeyi Putri Cantikka tersebut sudah mencapai 28,293,462 viewer. Jumlah tersebut sepertinya belum dijumlah dengan video sebelumnya yang mencapai penonton sejumlah 14 juta. Video “Keke Bukan Boneka” sebelum di-lock down merupakan video yang mengalahkan lagu Lady Gaga feat Blackpink, Sour Candy. Jumlah subscriber di channel Kekeyi juga telah mencapai angka 944 ribu. Mungkin ada baiknya Lady Gaga ataupun Blackpink bikin content yang lebih viral, misal bagi-bagi ke masyarakat berupa tahu isi pulsa.

Sebuah akun Youtube akan dinilai dari banyaknya orang yang subsribe. Video Youtube pun dipandang dari banyaknya netizen yang nonton,  nge-like dan dislike. Semua yang melekat di diri seorang youtuber tersebut berhitung pada pada angka, angka dan angka. Kalo dalam mata kuliah metode penelitian, pendekatan berdasar angka ini disebut sebagai metode kuantitas. Saat ikut mata kuliah tersebut, gue pernah  nyeletuk, “gue mah orangnya iklas, enggak pernah hitung-hitungan.” Lalu sebuah penghapus papan tulis melayang ke arah gue. Oya, saat itu yang ngajar dosen tamu dari jurusan Statistik.

Untung cuman penghapusnya doang, enggak sama pabriknya.

Iklan dalam Demokrasi

Begitu juga dengan demokrasi yang kita anut. Iya kita anut, udah kayak agama.

Namun sejatinya demokrasi itu lebih dekat dengan penerapan ilmu matematika dasar daripada agama. Sekadar hitung-hitungan angka semata. Jokowi Widodo menjadi Presiden Republik Indonesia karena berdasarkan pemilihan presiden, pemilih beliau lebih banyak dibandingkan calon presiden lainnya, Prabowo Subiakto.

Di tataran yang lebih teknis, semakin banyak kampaye calon presiden dilakukan, semakin berpeluang calon presiden itu akan diingat calon pelimilh. Semakin ia diingat oleh pemilih, maka ketika masuk bilik suara, calon presiden itu akan lebih diingat. Sesederhana itu. Mungkin kalo capres terlalu menyederhanakan, karena cuman ada dua calon. Tetapi dengan logika yang sama, kita bisa ngelihat pada level yang berbeda, baik calon legsilatif dari DPRD kabupaten/kota/propinsi/RI maupun Calon Bupati/Walikota dan Gubernur.

Maka kita akan menenui banyak sekali kampanye di sejumlah medium, sepeti iklan caleg dan cawali/cabup/cagub di tivi, baliho di perempatan sampai akun-akun medsos maka semakin banyak terpaan kampanye politik seorang politikus kepada calon pemilih. Bahkan sampai strategi kampanye yang enggak masuk akal.

Beberapa tahun lalu, gue pernah liat billboard besar di Ringroad Barat Pelem Gurih Yogyakarta. Balihonya besar banget dan tempat strategis pula. Jika dihitung memakai angka, baliho ini punya dimensi yang besar. Lebih panjang dan lebih lebar dibanding baliho lainnya. Serta berada di jalan utama yang dilalui ribuan orang setiap harinya. Namun yang unik, Pesan di billboard itu kurang lebih seperti ini “Selamat dan Sukses atas Deklarasi Perindo, Partai Persatuan Indonesia” lengkap dengan logo partai dan foto sang ketua, Hary Tanoe. Absurdnya di billboard itu enggak ada “pihak lain”.

Logikanya gini, kalo lu ngucapin selamat ke orang lain, pasti identitas lu disebut. Misal di amplop saat mengadiri resepsi pernikahan dan di karangan bunga saat pemakanan. Bahkan sekadar ucapan met ultah kepada seorang teman di medsos, ada nama akun kita tertera. Kalo enggak ada, berarti lu ngucapin sendiri, kasi selamat sendiri. Ini kayak on*ni.

Media (ber)Demokrasi

Ini cuman di billboard. Bayangin kalo hal yang sama di sejumlah media di Indonesia (TV, koran, web, tivi berbayar, aplikasi android). Kita bisa melihat angka-angka yang jauh lebih rumit dari baliho tersebut. Rating, jumlah penonton, jumlah pembaca, share audience, jam tayang utama dan sebagainya. Sekali lagi angka, sama seperti demokrasi.

Lagi-lagi gue “takut” dengan Hari Tanoe dan konglomerasi media MNC. Bahkan gue sempet berharap agar Presiden Joko Widodo tidak menambah hari nasional sebagai hari libur di negeri ini. Males banget kalo liburan di rumah, nonton tivi, tapi yang muncul Hari Tanoe lagi. Karena dia bakal narsis di tivi lalu kasi Selamat hari ini, hari itu, Hari Tanoe.

Gue enggak ada masalah dengan Hari Tanoe atau politikus yang lain. Begitu juga dengan Presiden Jokowi, Menhan Prabowo, atau siapapun. Begitu juga dengan MNC atau media apapaun. Mau TV One yang selalu riuh di ILC, atau Metro TV yang kadang menampilkan Surya Paloh kelewat sering. Mungkin ada baiknya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengubah nama Metro TV menjadi Surya Paloh CCTV.

Harapan gue ke media dan demokrasi sudah terlanjur besar. Karena bagaimanapun juga media ini adalah pilar ke empat demokrasi. Eksekutif, legislatif, yudikatif dan pers/media.  Jadi kalo media berulah, maka demokrasi kita juga bisa berubah. Gue takut bahwa kebebasan jurnalistik -yang seharusnya menjadi anjing penjaga-  malah menjadi corong penguasa dan lingkaran kekuasaannya.

Contoh sederhana, jika media dikuasai oleh politikus, semacam Hari Tanoe dengan Mars Perindo, maka demokrasi sudah berubah. Jika dulu kita mengenal Demokrasi itu dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Sekarang nilai demokrasi telah berubah, jadi Dari Rakyat, Untuk Rakyat, Oleh Perindo, oleh Perindo. Jayalah Indonesia.

Kalo lu baca alenia di atas sambil nyanyi,  maka fiks demokrasi kita udah di titik nadir.

Demokrasi dan Kekeyi

Kembali ke Kekeyi dan persoalan video “Keke Bukan Boneka”, itu semua adalah persoalan bagi demokasi kita. Jika Demokrasi berhitung pada jumlah pemilih, maka Youtube mengkalkulasikan traffic dalam situs video sharing tersebut. Jika calon legislatif menghitung jumlah konstituen yang akan memilih dia, maka youtuber akan berharap pada penjumlahan subscriber mereka. Lalu politikus akan berusaha menjadikan dirinya populer, maka content creator akan berpikir bagaimana dirinya menjadi viral. Seorang politikus dan youtuber akan sama-sama senang jika dirinya diomongin oleh orang, baik di kehidupan sehari-hari maupun di dunia maya.

Persoalannya, setidaknya bagi gue, sekali lagi bagi gue, yang banyak diomongin orang itu belum tentu baik. Yang dipilih orang banyak, belum tentu sesuai selera kita. Kuantitas tidak selamanya menunjukkan kualitas.

Kekeyi dan politukus setidaknya mengajarkan ke gue, bahwa kita hidup di era angka-angka yang serba dihitung. Setidaknya untuk menunjukkan betapa viralnya mereka. Lalu mereka mendapatkan keuntungan dari popularitas yang didapatkan tersebut. Kekeyi mendapatkan uang dari Ad sense, dan endorsement. Sedang politukus mendapatkan kekuasaan (dan juga keuangan) dari kursi yang diraihnya.

Sementara kita dapat apa? Cuman rasa angkuh bahwa kita merasa lebih baik dari Kekeyi dan politikus tersebut.

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.