Wawancara (Diri Sendiri) : Memandang Jendela Indonesia Dengan Tawa

Wawancara (Diri Sendiri) : Memandang Jendela Indonesia Dengan Tawa

Selamat ya bro, buku “Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa” sudah terbit. Ini buku ke berapa?
Makasi, sob. “Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa” merupakan buku ke tujuh gue. Setelah sebelumnya (1) Facebook Love Story, (2) Fiksimini Facebook, (3) Mereka Bilang, Gue Playboy, (4) Tertawalah Bersamaku,(5) Roy dan Joko, serta (6) Pendawa, Pendamping Idaman Wanita
Lumayan banyak, ya. Masih bergenre komedi?
Masih, saat ini gue masih konsisten dengan komedi.
Bisa diceritakan secara singkat tentang buku “Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa”?
Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa mengambil format kumpulan esai komedi. Sebagai sebuah esai, gue menuliskan kejadian sehari-hari, yang kita semua, gue, lu adepin sehari-hari. Untuk lebih mengerucutkan gagasan, gue mencoba memandang keseharian tersebut melalui isi media, baik media massa (TV, koran, dsb) maupun media baru (internet, medsos, seluler, dsb). Media sendiri dapat dimataforkan sebagai sebuah jendela, dimana kita bisa melihat sekeliling tanpa keluar rumah.
Lalu?
Lalu gue melihatnya, isi media tersebut, dari perspektif komedi. Sesuatu yang lucu bagi gue dan juga pembaca buku ini. Sesuai judul di buku ini, “dengan Tawa”.
Perspektif komedi?
Ya, bagaimana gue ngeliat sesuatu dengan sudut pandang komedi. Sesuatu yang menimbulkan tawa dan senyum bagi gue, lalu gue tularkan ke pembaca melalui buku ini. Misalnya, kita melihat Duo Serigala. Dalam perspektif showbiz, kita bisa melihat bahwa dangdut indonesia enggak bisa lepas dari goyang. Dalam perspektif politik, bisa jadi Duo Serigala dimunculkan untuk mengalihkan isu besar yang terjadi di negeri ini. Meskipun Duo Serigala itu sendiri sudah besar… dua lagi, eh empat.
Nah, gue melihatnya secara komedi. Tentang bagaimana Duo Serigala dalam benak gue secara komedi, misalnya gue mengimajinasikan lagi menonton konser dangdut Duo Serigala.
Yang membedakan buku ini dari buku-buku lu sebelumnya?
Gue melihat dan menertawakan apa yang ada di ada di sekitar kita semua. Apa yang gue alami sekarang. Gue enggak lagi ber-hahaha mengenai tema jomblo, galau, cinta-cintaan dan sebagainya. Gue merasa lebih jujur, untuk menjadi diri sendiri dalam buku ini.
Secara gaya penulisan, dengan gaya esai komedi gue harus membangun gagasan dari apa yang diketahui oleh masyarakat luas, yakni melalui isi media massa dan media baru. Dari apa yang kita baca di surat kabar, dari talkshow televisi yang kita tonton, hingga pemberitaan online yang kita share di media sosial. Dari situlah, gue mulai membedah dengan gaya komedi.
Semacam pendewasaan dalam berkomedi?
Ya, ….. semacam itu lah. Gue ngerasa komedi itu bukan sekadar milik dari segmen pembaca tertentu. misalnya saja, anak abg. Komedi adalah sebuah ‘sense’ yang kita semua miliki.
Gue lebih ngerasa bahwa buku sebagai proses pendewasaan bagi gue sebagai pribadi maupun penulis.
Termasuk dengan menampilkan Duo Serigala di cover buku, bentuk kedewasaan anda berkomedi?
Hahahaha …. .Duo Srigala emang jadi salah satu materi dalam buku gue, begitu juga Presiden Jokowi, tinta pemilu yang mengambarkan demokrasi di negeri ini, juga menyagkut media massa, internet, hingga kehidupan keseharian yang kita alami.
Apa yang pembaca dapatkan setelah membaca buku ini?
Harapannya gue, pembaca buku ini akan tertawa membaca buku. Sejumlah pembaca awal buku ini memberikan sejumlah testimoninya. Dan juga sebagaimana buku-buku gue sebelumnya, yang juga selalu memgundang tawa dan senyum bagi pembacanya.
Selain itu, buku ini gue harapkan bisa membawa kesadaran bahwa ada banyak persoalan di bangsa ini, sebuah kesadaran yang didapat setelah kita menertawakanya. Semacam otokritik bagi kita semua.
Sebagaimana pepatah yang populer, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menertawakan dirinya sendiri.
Apa alasan gue untuk membaca, membeli buku ini ?
Baca buku ini, dan tertawalah.
Kok di wacancara ini, lu enggak lucu?
Lu pernah wawancara Susi Susanti sambil main badminton? Atau wawancara Duo Serigala yang lagi goyang dribel? Enggak lah….. Kalo mo liat Susi Susanti main badminton, jangan sambil wawancara. Kalo lu mau ketawa, baca buku gue, jangan wawancara.
Kalo mo pesen buku ini gimana?
Inbox gue aja ya….. atau pesan di WA  
Makasi, bro. Makasi waktunya.
Buruan pesen ya….hahahaha.
Related Post
Kisah-kisah Bersepeda Yang Jarang Kita Ketahui

Singkat cerita si cewek bilang ke Bapaknya yang atlet sepeda itu bahwa cowoknya akan segera melamar. Si bapak tentu menjawab Read more

Wonder Woman : Refleksi Kelakuan Kaum Hawa

Tahun ini, kita enggak bisa nonton sejumlah film yang direncanakan tayang. Ada pandemi Covid-19 yang membuat bioskop menutup layarnya. Sejumlah Read more

Wajah Kekeyi, Wajah (Demokrasi) Kita

Kekeyi dan politukus setidaknya mengajarkan ke gue, bahwa kita hidup di era angka-angka yang serba dihitung. Setidaknya untuk menunjukkan betapa Read more

Memaknai Nastar dari Perspektif Kebangsaan

Dalam sejarahnya, kue nastar sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Nastar diadaptasi dari kue Belanda, yang biasanya berisi selai strawberry, Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.