Pendawa, nyaris tiap lembar bikin saya ngakak, resensi dari Kang Dana

Pendawa, nyaris tiap lembar bikin saya ngakak, resensi dari Kang Dana

Muh Rio Nisafa. Mulanya, saya kurang sreg dengan penulis ini. Bagaimana tidak, dia nulis dengan logat betawi, mirip para penulis ibu kota, padahal orang Yogya, kota pendidikan, lingkungan jawa, di mana adat istiadat dan logat mereka, seharusnya dijunjung tinggi. Eh Muh Rio Nisafa ini, malah membuang jati dirinya. Itulah makanya, suatu ketika, saya pernah menyindir tulisannya norak. Kenapa? Karena saya belum membaca.

Continue Reading
Kisah-Kisah Masa Kuliah (Sekadar Obrolan Tentang Novel Komedi ‘Pendawa’ Karya Sahabat Saya Rio Nisafa)

Kisah-Kisah Masa Kuliah (Sekadar Obrolan Tentang Novel Komedi ‘Pendawa’ Karya Sahabat Saya Rio Nisafa)

Karena seorang Rio adalah penulis humoris dan seorang comic (itu loh yang suka tampil dalam stand up comedy), tentunya dapat dipastikan kisah-kisah masa kuliah yang ditulisnya bergenre komedi. Novel karya sahabat saya ini berjudul Pendawa. Dari judulnya tentu dapat diduga tokoh utamanya ada lima. Ya, Pendawa pasti berlima, begitu juga Voltus Lima. Memang dulu Rio dan saya sering terlihat bareng kemana-mana dengan tiga sahabat kami lainnya. Kata Pendawa sendiri, kemudian diartikan (entah oleh siapa) sebagai Pendamping Idaman Wanita. Sebuah ‘kesombongan’ yang kalau meminjam kata Sheila on 7 “kitalah yang terhebat”.

Continue Reading
Pendawa, lu bakal kecapekan ngakak

Pendawa, lu bakal kecapekan ngakak

Ada yang pernah baca buku ini? Gue saranin gak usah deh! Efek sampingnya bahaya banget, mulut lu bakal overdosis dan berbusa karena kecapekan ngakak. ‘Pendawa’ adalah kisah lima sekawan (Anton, Dedy, Edo, Lilik, dan Rio) yang dijuluki pendamping idaman wantita. Lima sekawan yang ngabisin bangku perkuliahannya di UGM fakultas ilmu sosial dan politik(FISIPOL) dengan momen-momen kocak. Anton dengan sosok ‘wise’nya, Lilik yang suka ngebolang, Dedy si cowok kalem tipe rumahan 21 *eh, Edo si pemimpin yang tegas. Gimana dengan Rio? Ah, agak absurd! (peace, Bang Rio :D) tapi doi gak kalah kocaknya.

Continue Reading
Pendawa, membuat saya seperti menonton siaran langsung stand up komedi.

Pendawa, membuat saya seperti menonton siaran langsung stand up komedi.

Kalau berbicara tentang novel komedi, awalnya pikiran saya hanya ada yang namanya Boim Lebon dan Raditya Dika. Siapa coba yang tidak kenal dengan kedua penulis itu? Tapi saat masuk Komunitas Bisa Menulis, saya dikejutkan sosok lain yang tidak kalah unik dan kocak. Mata saya selalu dibikin tercuri perhatian dengan sosok Mas Rio Nifasa. Meski hanya satu paragraf, kata-katanya selalu menyihir saya. Bukan hanya menjadi geleng-gelang, tapi juga tertawa habis. Orang ini benar-benar cerdas. Cerdas dalam mengkritisi fenomena sosial, cerdas dalam menyajikannya melalui tulisan yang kocak dan berbobot.

Continue Reading
Membaca Buku-Buku Rio

Membaca Buku-Buku Rio

Asiknya lagi, karya-karya Rio itu sering kali baru terasa jenakanya kalau pembaca mikir dulu atau tahu konteksnya. Itu pertanda jelas bahwa humor Rio bukan humor kosong. Humor bukan semata-mata asal lucu, tapi sebagai warna dalam menyikapi suatu masalah atau fenomena. Saya tidak ingin mengatakan ada kebijaksanaan di balik humor Rio; takutnya bikin orang salah persepsi menyangka buku Rio itu bukan buku komedi, tapi buku filsafat populer.

Continue Reading
Satu Kata buat Pendawa, Cerdas

Satu Kata buat Pendawa, Cerdas

Cerdas! Kata pertama yang saya ucapkan setelah menutup halaman terakhir novel Pendawa ini. Kenapa saya bilang cerdas? Karena sang penulis mampu mengolah fenomena-fenomena sosial & politik menjadi sebuah komedi. Bicara soal novel komedi, nggak akan jauh sama Raditya Dika. Lalu apa hubungan Rio Nisafa dengan Raditya Dika? Karya mereka punya persamaan, tak asal tulis untuk lucu-lucuan, tapi juga bermakna.

Continue Reading