Kisah-Kisah Masa Kuliah (Sekadar Obrolan Tentang Novel Komedi ‘Pendawa’ Karya Sahabat Saya Rio Nisafa)

Kisah-Kisah Masa Kuliah (Sekadar Obrolan Tentang Novel Komedi ‘Pendawa’ Karya Sahabat Saya Rio Nisafa)

Kisah-kisah seputar masa kuliah tentu sangat menarik bagi kita. Kitaaaa??? Ya, mungkin bagi saya pribadi deh. Beberapa novel tentang masa-masa kuliah menjadi novel favorit saya, yang seringkali saya baca berulang kali. Penulis yang paling saya sukai dalam menulis kisah-kisah masa kuliah ada Erich Segal.

Dua novel tebalnya, ‘The Class’ (Kelas 58) dan ‘Doctors’ (Dokter) membuat saya bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Harvard. Dari dalam negeri saya menyukai trilogi ‘Cintaku Di Kampus Biru’ karya Ashadi Siregar. Selain itu ada ‘Cemara-Cemara Kampus’ karya Dono. Iya, betul, Dono yang sering bilang “Gile lu, Ndro” itu.

‘Cintaku Di Kampus Biru’ membawa kita ke kehidupan mahasiswa UGM tahun 70-an dan ‘Cemara-Cemara Kampus’ pada kehidupan mahasiswa UI tahun 80-an (walaupun seingat saya nama kampusnya dibuat fiktif, tapi mengingat Dono adalah alumni dan pengajar UI bisalah kita anggap ini kisah mahasiswa UI).

Dua universitas besar di negeri ini sudah memiliki kisah fiksinya sendiri, bahkan Cintaku Di Kampus Biru sudah difilmkan dan disinetronkan. Tentu saja universitas eh Institut paling terpandang di negeri ini tak mau kalah. Maka alumni ITB, Dermawan Wibisono, didapuk rekan-rekan sealmamaternya untuk menuliskan kisah masa-masa kuliah di institut tertua di negeri ini. Novel berjudul ‘Gading-Gading Ganesha’ ini kemudian difilmkan dengan judul ‘Bahwa Cinta Itu Ada’. Filmnya disutradarai alumni ITB lainnya, Sujiwo Tejo, namun sayangnya film ini kurang berhasil di pasaran.

Karena menyukai kisah-kisah masa kuliah ini jugalah yang membuat saya suatu ketika menulis novel berjudul ‘Balada si Dodol’. Tapi ini bukan mau membahas tentang novel itu, tapi tentang novel ‘Pendawa’ yang ditulis oleh sahabat saya, Rio Nisafa.

Ketika Rio menceritakan akan menulis kisah tentang masa-masa kami kuliah dulu, saya merasa sangat senang. Karena setelah menulis novel tipis yang sudah saya sebut di atas, saya tetap memiliki obsesi untuk menulis kisah yang lebih tebal (dan tentu saja membuat isi dompet saya juga tebal) tentang masa-masa kuliah. Oleh karena itulah saya ingin tahu bagaimana masa-masa itu dari sudut pandang seorang Rio dan apa saja yang diingatnya tentang persahabatan kami. Karena tentunya kita maklum, meskipun mengalami kejadian yang sama di masa lalu, kini kita mengenangnya secara berbeda. Atau suatu kejadian yang kita anggap penting di masa lalu, bisa saja sama sekali tak diingat oleh sahabat kita.

Karena seorang Rio adalah penulis humoris dan seorang comic (itu loh yang suka tampil dalam stand up comedy), tentunya dapat dipastikan kisah-kisah masa kuliah yang ditulisnya bergenre komedi. Ada sebuah novel komedi tentang masa-masa kuliah yang saya suka, DO (Drop Out) judulnya dan ditulis oleh Arry Risaf Arisandi. Novel ini kemudian difilmkan, tapi saya lebih menyukai novelnya. Mungkin karena kelucuan kata-kata dalam novel ini memang susah untuk dituangkan dalam sebuah film.

Novel karya sahabat saya ini berjudul Pendawa. Dari judulnya tentu dapat diduga tokoh utamanya ada lima. Ya, Pendawa pasti berlima, begitu juga Voltus Lima. Memang dulu Rio dan saya sering terlihat bareng kemana-mana dengan tiga sahabat kami lainnya. Kata Pendawa sendiri, kemudian diartikan (entah oleh siapa) sebagai Pendamping Idaman Wanita. Sebuah ‘kesombongan’ yang kalau meminjam kata Sheila on 7 “kitalah yang terhebat”.

Sebagai penulis yang selalu mengikuti perkembangan gaul terkini, Rio memutuskan mengubah setting waktu kisahnya menjadi era ‘gadget semisal hand phone bukan lagi menjadi barang mewah’. Sejujurnya ini membuat saya kecewa, tapi saya dapat memaklumi karena fans-nya sahabat saya ini banyak yang masih imut-imut.

Mungkin seperti Hilman yang menulis kembali kisah Lupus agar lebih pas dengan selera generasi masa kini (kabarnya dia meminta bantuan anaknya yang masih remaja). Tentu bakal gak banget’ bagi mereka, kalau settingnya jaman di mana ketika pager seorang teman berbunyi saat kuliah saja membuat heboh dan lagu ‘ti…tit…ti…tit…pagerku berbunyi’ lagi naik daun. Masa-masa telepon umum masih menjadi primadona dan interlokal harus setelah pukul sembilan malam karena lebih murah, yang kadang masih saya rindukan. Bukan apa-apa, saya merindukan saat semuanya masih begitu sederhana. Ketika uang 50 rupiah begitu berharga, sampai seorang teman saya bernama Lilik jadi primadona karena memiliki persediaan uang 50 rupiah yang banyak (bukan kenapa-kenapa, teman-teman suka menukar uang padanya untuk ongkos bus. Ongkos bus kota waktu itu 150 rupiah dan kalau kita bayar 200 rupiah ke kernetnya, biasanya tidak bakal diberi uang kembalian. Mau minta malu, mau direlakan, ya gak ikhlas juga).

Seperti yang disebutkan penulis dalam pengantarnya, novel ini memadukan teknik penulisan novel dan teknik stand up comedy. Jadi inilah mungkin yang membuat kisahnya menjadi semacam fragmen-fragmen atau kepingan-kepingan kisah. Rio berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri (ya…mau ngajak siapa lagi?) dan bahkan tertawa ketika membaca bab demi bab dalam buku ini. Andai sahabat saya ini sudah selucu ini saat kuliah dulu, mungkin sejarah akan berubah.

Kisah kami berlima dalam kisah komedi ini tentu saja harus digarisbawahi sebagai sebuah karya yang menggunakan metode fiktif intuitif (seperti yang dulu disebut oleh seorang dosen kami). Jadi janganlah setelah membaca buku ini lalu bertanya pada saya, “Ton, kau putus ama Evy karena apa?” Karena saya dapat dipastikan tidak pernah nyambung dengan cewek bernama Evy, bagaimana bisa putus? Dan sejujurnya, selama kuliah saya tidak pernah putus dengan siapapun juga. Karena saya ini tipe cowok yang setia, tapi sayangnya setia pada cewek orang lain (hiks).

Jadi membaca kisah komedi ini janganlah dengan kening berkerut, dan jangan heran pula kalau kami di sini ‘ber-gue dan ber-elu’ segala, seperti dalam film warkop. Tertawa sajalah…sebelum tertawa itu dilarang.

Akhirnya, setelah membaca kisah yang ditulis sahabat saya ini, timbul keinginan untuk melakukan ‘pelurusan sejarah’ menurut versi saya. Mungkin dengan saya beri bumbu-bumbu di sana-sini, biar lebih heroik dan romantis. Mungkin awal kisahnya saya buat seperti kisah ‘The Class’-nya Erich Segal, yang tokoh utamanya Andrew Eliot galau menghadapi reuni Harvard kelas 58 setelah 25 tahun berlalu. Dia merasa ‘kecil’ karena empat sahabat yang dulu dekat dengannya telah menjadi ‘orang besar’.  Namun, hidup itu memang ‘sawang sinawang’ seperti orang Jawa bilang. Artinya lebih kurang, hidup di dunia ini hanyalah saling memandang. Bisa jadi orang tersebut kaya atau berhasil menurut pandangan kita, tapi belum tentu hidupnya bahagia. Duh…kog jadi serius gini ya? Baiklah…kita akhiri saja sebelum catatan ini berubah menjadi sebuah kisah inspiratif.

 

dikutip dari Notes Anton WP, https://www.facebook.com/notes/anton-widyanto-putra/kisah-kisah-masa-kuliah-sekadar-obrolan-tentang-novel-komedi-pendawa-karya-sahab/10152719114673714

 

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.