Pendawa, nyaris tiap lembar bikin saya ngakak, resensi dari Kang Dana

Pendawa, nyaris tiap lembar bikin saya ngakak, resensi dari Kang Dana

Muh Rio Nisafa. Mulanya, saya kurang sreg dengan penulis ini. Bagaimana tidak, dia nulis dengan logat betawi, mirip para penulis ibu kota, padahal orang Yogya, kota pendidikan, lingkungan jawa, di mana adat istiadat dan logat mereka, seharusnya dijunjung tinggi. Eh Muh Rio Nisafa ini, malah membuang jati dirinya. Itulah makanya, suatu ketika, saya pernah menyindir tulisannya norak.

Kenapa?

Karena saya belum membaca.

Suatu ketika, Isa Alamsyah, owner Komunitas Bisa Menulis, membuat lomba humor singkat. Siapa juara, dia dapat hadiah dari penerbitannya. Dan orang pun antusias ikut. Saya pun ikut. Dan dari sekian humor yang masuk, Muh Rio Nisafa jadi juara. Seharusnya saya penasaran, meneliti tulisan orang ini, dan bertanya, mengapa dia jadi juara. Namun malas. Barulah saya mulai ingin tahu siapa orang ini, sewaktu bertemu langsung dengan Pak Isa, dan beliau menceritakan komedi Rio ini cerdas, dan pandai merespon fenomena sosial dan mereproduksinya, menjadi komedi.

Misalnya saja fenomena Farhat Abas. Rio punya ungkapan pribadi. Bunyinya nyelekit banget. Begini, “Gue kira orang terbodoh di dunia ini Farhat Abas, ternyata ada yang lebih bodoh dari Farhat Abas, yaitu yang menyebarkan Informasi tentang Farhat Abas.” Saya tahu ini ungkapan Rio dari Pak Isa Alamsyah, saat ngobrol santai di penerbitannya. Nah, dari sanalah, saya mulai penasaran, dan ingin tahu lebih banyak. Namun sampai beberapa bulan, keinginan itu tertunda, akibat banyaknya keinginan lain.

Dan tiba juga saatnya, saya harus betul-betul memegang karya Muh Rio Nisafa. Buku lucunya, kini ada di tangan saya. Lucu, manis, bercover putih, bergambar lima pemuda tanpa wajah. Seharusnya buku ini berisi kisah Insan Tanpa Wajah, namun bukan, bukunya ini kisah “Pendawa”. Pendamping Idaman Wanita. Saya tak bisa berharap banyak buku ini akan mengajari saya bagaimana menjadi pria idaman. Seperti bisa saya baca pada sampulnya “Sebuah Novel Komedi”, saya hanya berharap banyak buku ini menghibur saya dengan komedinya.

Dan benar saja, setelah masuk, nyaris tiap lembar bikin saya ngakak. Emang saya kurang berwibawa, banyak tertawa. Tapi tentang buku ini lucu, saya kira tiap orang berkata “Iya”. Rio Nisafa ini kreatif buanget orangnya. Dia tahu sisi humor dari banyak hal, dan punya ungkapan menggelikan untuk banyak fenomena. Semisal nama kampusnya UGM, dia katakan, sebenarnya UGM ini punya banyak cabang. Di Garut juga ada, yaitu Universitas Gambar Maung. Kemudian karena kampusnya banyak gerbang dengan banyak satpam, dia menamai kampusnya ini UGM, singkatan dari Universitas Gerbang Melulu. Tahun 1990 universitas ini tidak mempunya mesjid, maka untuk masa itu, UGM singkatan dari Universitas Gakada Masjidnya. Halah, ada-ada saja si Rio ini. Bisa aja ngelucunya.

Itu belum ke tengah. Masuk bagian inti, ceritanya lebih seru lagi. Dalam masalah cinta, salah seorang temannya ada yang percaya sama jargon “Cinta Ini Membunuhku”, antara lain jika cinta sama anaknya satpam. Yang membuat saya ngakak juga kisah dia saat belajar di kelas. Dia kan jurusan Sosial Politik. Dalam perkuliahan sore, salah seorang dosennya menerangkan:

“Pada dasarnya, politik itu berkaitan dengan kekuasaan. Ada tiga hal mendasar yang harus kita pahami dalam politik, merebut kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan memperluas kekuasaan. Jika diibaratkan dengan percintaan maka merebut kekuasaan berarti pacara, mempertahankan kekuasaan berarti pernikahan, dan memperluas kekuasaan berarti berpoligami.”

Dan masih segudang ngakak lain, menurut saya seru banget. Membaca buku ini di Bulan Ramdhan, bisa dipake hiburan ringan, sambil ngabuburit. Membawanya ke halte bus, bisa meyingkat waktu biar tak jenuh menunggu. Dan membawanya di saat bujangan, bisa dipakai melerai jenuh akibat jodoh tak kunjung datang Eh yang terakhir beneran gak?

Intinya siapa pun Anda mencari hiburan, buku Rio Nisafa bisa jadi teman santai Anda. Ini buku ringan, bak kacang goreng. Tapi bukan kacangan, karena bagaimana pun, buku ini berisi pengetahuan juga. Setidaknya, karena kisah ini membahas UGM, setidaknya bakal Anda dapatkan di dalamnya, bagaimana suasana UGM, dan bagaimana saja cara ngampus di sana.

Related Post
Kisah-kisah Bersepeda Yang Jarang Kita Ketahui

Singkat cerita si cewek bilang ke Bapaknya yang atlet sepeda itu bahwa cowoknya akan segera melamar. Si bapak tentu menjawab Read more

Wonder Woman : Refleksi Kelakuan Kaum Hawa

Tahun ini, kita enggak bisa nonton sejumlah film yang direncanakan tayang. Ada pandemi Covid-19 yang membuat bioskop menutup layarnya. Sejumlah Read more

Wajah Kekeyi, Wajah (Demokrasi) Kita

Kekeyi dan politukus setidaknya mengajarkan ke gue, bahwa kita hidup di era angka-angka yang serba dihitung. Setidaknya untuk menunjukkan betapa Read more

Memaknai Nastar dari Perspektif Kebangsaan

Dalam sejarahnya, kue nastar sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Nastar diadaptasi dari kue Belanda, yang biasanya berisi selai strawberry, Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.