Pendawa : Panduan ‘Gila’ Mengenal Yogyakarta

Pendawa : Panduan ‘Gila’ Mengenal Yogyakarta

Panduan ‘Gila’ Mengenal Yogyakarta
Oleh : Kayla Mubara

Judul Buku : Pendawa, Pendamping Idaman Wanita
Penulis : Muh. Rio Nisafa
Penyunting : Rosa Mufahini
Tata Letak : Munaroh Saifi
Desain Sampul : Firman Huisoa
Halaman : 120 halaman
Cetakan : 3 Juni 2014
Harga : (Berapa ya, Kak? Ane lupa) smile emoticon

Pertama kali niat beli novel Pendawa, jujur karena ada satu level di sebuah audisi menulis yang wajib bergenre humor. Bayangin saja, aku yang biasa serius, tapi kayaknya sih enggak bikin murus-murus, tiba-tiba wajib menulis naskah humor.

Aku membacanya pilih-pilih halaman dan judul. Eh, ternyata pas audisi sudah kelar, buku ini bisa aku baca sambil apa saja. Misalnya; Masak sayur, masak air, nimang anak tapi bukan sambil nimang suami. Etdah.

Di halaman ucapan terima kasih, ada kalimat yang bikin aku ketawa sendiri, “Selamat membaca, selamat tertawa. Tertawa itu bikin sehat, setidaknya bikin sehat dompet gue.” Gubrak!

Secara keseluruhan, novel ini berkoar-koar tentang kehidupan 5 mahasiswa fisipol UGM. Jadi buat kamu yang kuliah di sana, bakal serasa menengok masa lalu kampusmu. Sedang bagi lulusan SMU, buku ini menawarkan alternatif lain sebagai guide untuk mengenal kampus biru (masih ini bukan ya julukannya?)

Cerita yang dibangun sebenarnya sederhana, hanya saja di tangan penulis semua bisa jadi bahan pengundang tawa. Aku kadang sampai mengulangi beberapa kalimat, meyakinkan diri, apa penulis beneran atau sedang nge-SUC, stand up comedy (waduh, istilahnya benar apa enggak, ya?)

Lima orang yang menamakan kebersamaan mereka dengan Pendawa adalah ; Rio, Anton, Dedy, Edo dan Lilik. Mereka bertemu di depan loket pembayaran SPP UGM. Mereka menjalani OSPEK sebagaimana mahasiswa baru pada umumnya.

Pertama kalinya Pendawa mengenal demonstrasi. Rio, Anton dan Edo terpilih sebagai orator. Padahal mereka tidak memiliki tampang demonstran (asli ngikut bahasa penulis). Mau tahu dialog yang bikin senyum?

“Panas-panas gini, kita harus berorasi di jalanan?”
“Ya iya lah.”
“Kalo pake surat namanya korespondensi. Udah gak jaman, Sob.” Wekekekek.

Dari novel kocak ini, kamu bisa tahu apa itu Sekaten, Tugu Yogya, Borobudur bahkan Pantai Indrayanti. Yang terakhir sama sekali bukan nama ibu kos mereka. Aku jadi punya kesimpulan lain, ini novel apa panduan wisata? Tapi kok bikin ketawa? Ah sudahlah, mari lanjut saja.

Dari sekian cerita, aku paling klik (enggak lupa-lupa, tiap ingat bawaanya ketawa) sama yang judulnya, “Tiada Hari Tanpa Makan.” aku kutipin paragraf gilanya di sana, ya? Cekidot.

‘Tak perlu acara special untuk makan-makan. enggak harus nunggu teman ulang tahun, atau wisuda duluan. Ada seminar gratisan pun bisa jadi alasan buat makan-makan. Hand out seminar tak perlu tebal,yang penting kotak nasinya tebel, daging rendangnya tebel. Hasilnya urat malu Pendawa makin tebel juga.’ Hahaha.

Dari membaca novel ini pun kamu bisa tahu tempat makan yang asyik di Yogyakarta. Sengaja tidak aku sebutkan, nanti dikira promosi terang-terangan. Well, saranku sih, kamu bisa belajar nulis lucu dan tersenyum atau tertawa dengan memiliki buku ini.

Hmm, kalau kebanyakan nulis, entar kamu keburu menguap, ya?

Sudah ah, kalau mau bukunya pesan saja langsung sama penulisnya. Eh, novel ini juga bisa dijadikan kado buat temanmu yang lagi bête, hobi galau dan urat senyumnya masih tersimpan. Untuk yang punya selera humor oke, buku ini gampang banget bikin kamu ngakak. Oops!

Maaf tanda (‘) berarti tertulis italic (miring)

PC-Yk, 22.01.2015

resensi ini ditulis oleh Kayla Mubarasumber

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.