Satu Kata buat Pendawa, Cerdas

Satu Kata buat Pendawa, Cerdas

Rahasia Novel PENDAWA
Cerdas!

Kata pertama yang saya ucapkan setelah menutup halaman terakhir novel Pendawa ini. Kenapa saya bilang cerdas? Karena sang penulis mampu mengolah fenomena-fenomena sosial & politik menjadi sebuah komedi. Kalimat ini misalnya,

“Ngakak abis baca diary gue tentang Ospek. Jaman junior pengen mengubah Ospek, giliran udah senior justru mempertahankan ritual Ospek. Ternyata gue enggak beda ma politisi busuk. Saat kampanye bilang, ‘katakan tidak pada korupsi’…. Eh, giliran berkuasa, ‘katakan tidak, padahal korupsi’.”

Awalnya, saya tak begitu tertarik untuk membaca novel ini. Dilihat dari cover yang berwajah absurd, saya bisa menebak pasti isinya juga absurd. Tapi berhubung buku sudah di tangan, saya buka lembar demi lembar. Ternyata, lebih absurd dari yang saya bayangkan. Unik! Gila!

Tulisan mas Rio benar-benar bisa bikin ketagihan. Ya ketagihan, rasanya pengen baca terus. Harusnya halaman novel ini jangan sampai berakhir, hahaaa ….

Pesan saya, jangan baca novel ini di busway atau di angkot!

Bicara soal novel komedi, nggak akan jauh sama Raditya Dika, penulis buku komedi favorit saya. Ada yang belum tau siapa Raditya Dika? Buruan baca TV gih ….

Lalu apa hubungan Rio Nisafa dengan Raditya Dika? Karya mereka punya persamaan, tak asal tulis untuk lucu-lucuan, tapi juga bermakna.

Makna apa yang bisa diambil dari novel Pendawa ini?

Rahasia!

Baca sendiri ya

Review ini ditulis oleh Lia Prasetyaningrum di Group Komunitas Bisa Menulis

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.