Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

1. Nonton film karena Dodit Mulyanto. Salah satu komika atau stand up comedian yang populer di negeri ini. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa ini adalah film komedi. Apalagi gue juga sudah nonton trailer-nya. Cukup mampu menarik gue untuk kembali ke bioskop setelah seminggu sebelumnya nonton Joker.

2. Dodit membawa beban komedi di film ini sendirian. Ia adalah aatu-satunya komedian yang berperan. Namun harus diakui Dodit sukses membawakan tanggung jawab itu. Ada tawa penonton yang terdengar dari bangku penonton.

Sebagai perbandingan, Dodit sukses dibandingkan dengan Pandji Pragiwaksono; baik di film “Partiker”, maupun “Insyaallah Sah”. Komedi di ketiga film nggak maksimal meski dibantu sejumlah komika lainnya.

3. Teknik stand up comedy masih terbawa oleh Dodit di film ini, seperti “membakar sampah bersama”. Ia memakai teknik rule of three dan call back dengan bagus. Bahkan lebih detail, gaya stand up ala Dodit lekat banget di film ini. Celetukan yang “terkesan” spontan, dialek Jawa yang medok (ini yang bikin aneh ketika Dodit menyebut dirinya sebagai gue), atau ketika menertawakan dirinya sendiri dengan “cie cie” (tapi tenang aja, emang lucu kok. Enggak seperti Arthur Fleck).

4.Dengan gaya stand Dodit tawa yang didapat memang tidak pecah (membawa tawa ngakak guling guling). Tetapi tawa yang didapat rapat sepanjang awal hingga mendekati akhir film.

Gombalan Dodit terasa ringan namun menghibur. Tidak terkesan klise sehingga bisa dicetak di Fuji Film, eh. Tidak terkesan basi karena memang gaya Dodit banget.

Celetukan Dodit juga mampu yang bikin ger penonton. Ringan sih, seperti ….. Enggak jadi ah, daripada gue bocorin letukan itu kayak apa.

Jogetan dan lagu Dodit juga membikin film ini berasa sangat Dodit sekali. Bukankah ia juga dikenal sebagai stand up comedian yang membawa alat musik di hampir semua penampilannya.

Seting Korea dalam film ini juga mempertebal pesona Dodit yang selama ini kita kenal, khususnya di ajang kompetisi Stand Up Comedy Kompas TV. Bukankah Dodit kita kenal sebagai orang Jawa yang dididik dengan budaya Eropa. Gap budaya itu juga sukses disampaikan Dodit, meski kurang diekspos juga. Atau jangan-jangan ini karena latah film nasional syuting di luar negeri.

Namun kemampuan acting Dodit masih perlu diasah, sehingga alasan ia juga harus mampu membawakan peran “drama”. Alasan kenapa karakter Nik (diperankan Dodit) bisa jatuh cinta dengan Diah (diperankan Shandy Aulia) belum digali secara optimal. Untuk peran ini, Raditya Dika jauh lebih masuk di sejumlah film komedi romantis nya maupun webseriesnya Malam Minggu Miko.

Ada banyak pertanyaan di benak gue tentang sosok Nik dan Diah secara personal. Adegan di bagian akhir cerita memang sedikit menjawab, tapi entah kenapa masih tetap menggantung sebagai pertanyaan.

5. Dodit sukses membuat tawa penonton, seakan dekat dengan kita. Ketika orang baru pertama kali jatuh cinta. Gombalan yang lebay tapi sukses membuat tawa penonton.

Bahkan umpatan “D*nc*k” juga berhasil membuat gue tertawa dua kali. Umpatan itu terasa pas, sesuai porsi dan kebutuhan cerita. Beda banget dengan ketika umpatan yang sama dilontay Bayu Skak di film “Yowis Ben”. Di film tersebut, umpatan tersebut terasa overuse, terlalu banyak dilontarkan, terlebih di film “Yowis Ben II”.

Mungkin perlu digali lebih jauh, apakah ini sukses penulis skenario/ produser film yang sudah mengincar Dodit sebagai pemeran film ini. Jangan-jangan Dodit juga terlibat dalam penulisan skenario atau ada improvisasi saat syuting film. Kita bisa belajar dari film Ernest yang juga melibatkan komika sebagai konsultan komedi dalam beberapa filmnya.

6. Komedi itu ditujukan untuk membuat penonton tertawa. Tawa itu dekat dengan bahagia. Meski tidak selalu. Penulis naskah film ini membawa pada level tersebut. Kita melihat film ini bukan sebagai kisah cinta yang happy ending. Agak sedikit menggangu gue sebagai penonton.

Gue masih inget ekapresi penonton sebelah gue, dengan alur cerita film ini. Sepertinya ia bilang, “kok akhir ceritanya kayak gini ya?”. Hal yang sama gue rasakan juga. Tapi enggak papa juga. Sah-sah saja, kok.

7. Direkomendasi ditonton pasangan yang sedang jatuh cinta, meskipun film ini juga boleh ditonton siapapun.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.