Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

Nonton film karena Dodit Mulyanto. Salah satu komika atau stand up comedian yang populer di negeri ini. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa ini adalah film komedi. Apalagi gue juga sudah nonton trailer-nya. Cukup mampu menarik gue untuk kembali ke bioskop setelah seminggu sebelumnya nonton Joker.

Dodit membawa beban komedi di film ini sendirian. Ia adalah aatu-satunya komedian yang berperan. Namun harus diakui Dodit sukses membawakan tanggung jawab itu. Ada tawa penonton yang terdengar dari bangku penonton.

Sebagai perbandingan, Dodit sukses dibandingkan dengan Pandji Pragiwaksono di film “Insyaallah Sah”. Komedi di film “Insyaallah Sah” nggak maksimal meski ada nama Pandji yang kita kenal dengan juri stand up.

Teknik stand up comedy

Teknik stand up comedy masih terbawa oleh Dodit di film ini, seperti “membakar sampah bersama”. Ia memakai teknik rule of three dan call back dengan bagus. Bahkan lebih detail, gaya stand up ala Dodit lekat banget di film ini. Celetukan yang “terkesan” spontan, dialek Jawa yang medok (ini yang bikin aneh ketika Dodit menyebut dirinya sebagai gue), atau ketika menertawakan dirinya sendiri dengan “cie cie” (tapi tenang aja, emang lucu kok. Enggak seperti Arthur Fleck).

Dengan gaya stand Dodit tawa yang didapat memang tidak pecah (membawa tawa ngakak guling guling). Tetapi tawa yang didapat rapat sepanjang awal hingga mendekati akhir film.

Gombalan Dodit terasa ringan namun menghibur. Tidak terkesan klise sehingga bisa dicetak di Fuji Film, eh. Tidak terkesan basi karena memang gaya Dodit banget.

Celetukan Dodit juga mampu yang bikin ger penonton. Ringan sih, seperti ….. Enggak jadi ah, daripada gue bocorin letukan itu kayak apa.

Jogetan dan lagu Dodit juga membikin film ini berasa sangat Dodit sekali. Bukankah ia juga dikenal sebagai stand up comedian yang membawa alat musik di hampir semua penampilannya.

Korea : Antara Drama dan Persona

Seting Korea dalam film ini juga mempertebal pesona Dodit yang selama ini kita kenal, khususnya di ajang kompetisi Stand Up Comedy Kompas TV. Bukankah Dodit kita kenal sebagai orang Jawa yang dididik dengan budaya Eropa. Gap budaya itu juga sukses disampaikan Dodit, meski kurang diekspos juga. Atau jangan-jangan ini karena latah film nasional syuting di luar negeri.

Namun kemampuan acting Dodit masih perlu diasah, sehingga alasan ia juga harus mampu membawakan peran “drama”. Alasan kenapa karakter Nik (diperankan Dodit) bisa jatuh cinta dengan Diah (diperankan Shandy Aulia) belum digali secara optimal. Untuk peran ini, Raditya Dika jauh lebih masuk di sejumlah film komedi romantis nya maupun webseriesnya Malam Minggu Miko.

Ada banyak pertanyaan di benak gue tentang sosok Nik dan Diah secara personal. Adegan di bagian akhir cerita memang sedikit menjawab, tapi entah kenapa masih tetap menggantung sebagai pertanyaan.

PR Dodit ke Depan

Dodit sukses membuat tawa penonton, seakan dekat dengan kita. Ketika orang baru pertama kali jatuh cinta. Gombalan yang lebay tapi sukses membuat tawa penonton. Dalam stand up, gombalan ke penonton, istilahnya Riffing, selalu sukses membuat tawa. PR Dodit ke depan adalah menemukan formula di luar gombalan agar penonton stand up dan film tidak merasa bosan.

Bahkan umpatan “D*nc*k” juga berhasil membuat gue tertawa dua kali. Umpatan itu terasa pas, sesuai porsi dan kebutuhan cerita. Beda banget dengan ketika umpatan yang sama dilontay Bayu Skak di film “Yowis Ben”. Di film tersebut, umpatan tersebut terasa overuse, terlalu banyak dilontarkan, terlebih di film “Yowis Ben II”.

Mungkin perlu digali lebih jauh, apakah ini sukses penulis skenario/ produser film yang sudah mengincar Dodit sebagai pemeran film ini. Jangan-jangan Dodit juga terlibat dalam penulisan skenario atau ada improvisasi saat syuting film. Kita bisa belajar dari film Ernest yang juga melibatkan komika sebagai konsultan komedi dalam beberapa filmnya.

Komedi itu ditujukan untuk membuat penonton tertawa. Tawa itu dekat dengan bahagia. Meski tidak selalu. Penulis naskah film ini membawa pada level tersebut. Kita melihat film ini bukan sebagai kisah cinta yang happy ending. Agak sedikit menggangu gue sebagai penonton.

Gue masih inget ekapresi penonton sebelah gue, dengan alur cerita film ini. Sepertinya ia bilang, “kok akhir ceritanya kayak gini ya?”. Hal yang sama gue rasakan juga. Tapi enggak papa juga. Sah-sah saja, kok.

Direkomendasi ditonton pasangan yang sedang jatuh cinta, meskipun film ini juga boleh ditonton siapapun.

Related Post
Review Film Komedi : Hit & Run, Laganya nge-Hit, Komedinya Run

Film Hit & Run diklaim sebagai film dengan genre komedi laga pertama di Indonesia. Setidaknya laman Wikipedia Indonesia menyatakan tersebut. Read more

Review Film Komedi | Pizza Man, Hangover dengan cita rasa lokal

Cerita dimulai dari sebuah rumah yang dihuni oleh tiga cewek sebaya, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila)  dan Merry (Yuki Read more

Imperfect : Ketakutan Gue ke Ernest

Apakah Imperfect merupakan film komedi? Iya, Sinopsis film ini situs/ aplikasi Cinema 21 tertulis genre drama, komedi. Bagi gue ini Read more

Mahasiswi Baru : Potensi Besar, Kelucuan Standar

Film ini membawa logline cerita yang menarik, bagaimana seorang nenek menjadi mahasiswa baru? Lastri (Widyawati) seorang nenek generasi baby boomer Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.