Imperfect : Ketakutan Gue ke Ernest

Imperfect : Ketakutan Gue ke Ernest

1. Apakah ini film komedi? Iya, Sinopsis film ini situs/ aplikasi Cinema 21 tertulis genre drama, komedi. Bagi gue ini film drama dengan bumbu komedi. Komedi dapat tapi tidak setebal film-film Ernest sebelumnya. Agar tak patah semangat buat pembaca review ini, gue mau menegaskan bahwa gue tertawa saat menyaksikan film ini. Begitu juga dengan penonton bioskop lainnya.
 
Sebagai sebuah perbandingan, Di film pertama Ngenest, kita bisa ngelihat sisi komedi dari sisi personal Ernest Prakasa. Di Cek Toko Sebelah, kelucuannnya begitu dekat dengan keseharian kita. Bahkan di film Milly & Mamet, kelucuan sudah dibangun dari dua karakter utama sejak puluhan tahun lalu melalui AADC Universe.
 
Lalu bagaimana dengan Imperfect (Starvision, 2019) ?
 
2. Premis cerita yang menarik dan penuh pesan moral. Tentang usaha seorang gadis mengahadapi body shaming, baik di lingkungan pekerjaan, sosial, bahkan di keluarganya sendiri. Bukankah isu body shaming tengah mengemuka dalam beberapa waktu terakhir.
 
Awalnya gue menduga, Porsi komedi di film ini dirasa sudah pas oleh Ernest Prakasa. Jika komedinya ditambah porsi, bisa jadi malah terjerumus pada guyonan body shaming. Bukankah kita sering mendengar orang tinggi dipanggil dengan “genter” (galah panjang untuk mengambil buah di pohon). Atau orang gendut ketika mo bikin baju, kita lalu menyarankan ia seharusnya bawa kain gorden.
 
3. Komedi di Imperfect memang terasa kurang. Gue mengira ada sejumlah faktor kenapa ini bisa terjadi.
– cerita diadaptasi dari buku Meira Anastasia istri Ernest Prakasa. Bisa jadi potensi di buku ini tidak setebal tulisan Ernest di. Ngenest, apalagi di panggung Stand up comedy. Meski untuk yang ini, gue belum baca buku Imperfect. Boleh dong, menduga-duga.
 
– sedikit banget komika yang terlibat. Bandingkan saja dengan “Cek Toko Sebelah” atau “Susah Signal” yang menghadirkan belasan (atau dua puluhan?) Komika yang turun berperan dalam film. Di Imperfect, kita masih melihat sejumlah komika bermain peran seperti Kiki Saputri, Aci Resti dan Neneng yang begitu kompak menjadi anak kost. Ada juga Acho dan Ardit Erwandha yang terlihat garing sebagai orang kantoran. Komedian lainnya, Uus, bahkan terjebak pada peran-peran stereotip sebagai preman. Denny Gitong pun enggak ada lucunya sebagai anak nongkrong, temennya Preman.
 
Dengan sedikitnya komika yang bermain di film ini, maka adegan lucu yang diperan para komika juga semakin sedikit. Beruntung kita bisa melihat debut Kiki Saputri yang viral saat melakukan stand up comedy dengan meroasting tokoh publik seperti Fadli Zon dan Susi Pudjiastuti. Dialog Tik-tikon Kiki dengan ketiga temen kostnya menjadi materi komedi paling gede sepanjang film ini.
 
Lebih jauh, beberapa komika yang sering diajak bermain film Ernest, seperti Ari Kriting, Yusril Fahriza, Ge Pamungkas, dan Bene Dion tak hadir di film ini. Beberapa nama komika ini bahkan masuk dalam Hahaha Corp, manajemen stand up comedian yang digawangi oleh Ernest sendiri. Positif thinking ya, mereka sudah sibuk dengan proyek film masing-masing. Ge Pamungkas sudah menjadi peran utama, Bene Dion menjadi sutradara, Yusril sudah bermain di banyak film. Dan Ari Kriting menjadi host di televisi.
 
Oya, kelucuan yang biasa didelivery oleh Asri Welas pun terasa berkurang di film ini. Hanya berkait soal shio, sebagaimana yang kita lihat di trailer film ini.
 
4. Yang paling penting, peran Ernest di film -sebagai aktor- makin berkurang. Bila diperhatikan porsi peran makin lama makin kecil. Bahkan untuk pertama kalinya, tidak ada wajah Ernest di poster filmnya sendiri. Jauh beda dengan film-film sebelumnya.
 
Bahkan dibandingkan dengan film yang hanya diperankan Ernest, tidak satu paket sebagai penulis skenario dan/atau sutradara. Wajah Ernest Prakasa juga muncul di film Sesuai Aplikasi, Stip & Pensil, hingga trilogi Comic 8.
 

Bahkan di film Imperfect ini, peran Ernest bisa saja dihilangkan, saking minornya peranan. Bisa saja peran Ernest diganti adegan Reza Googling lomba fotografi. Atau adegan Ernest kasi job digantikan oleh karakter lain.

Inilah ketakutan gue ke Ernest Prakasa. ketakutan bahwa porsi komedi dalam filmnya makin lama, makin berkurang. Coba bandingkan dengan pertama, Ngenest, dimana Ernest menjadi pusat semesta kelucuan. Di film kedua, “Cek Toko Sebelah”, Ernest masih tokoh utama, dimana pusaran konflik utama melekat pada dirinya. Lalu di film “Milly & Mamet” serta “Susah Signal”, Ernest menjadi peran pembantu dengan jumlah scene yang makin menurun.

Maka, sebelum film Imperfect tayang di layar lebar, gue sudah menduga “jangan-jangan” peran Ernest di dalam film makin sedikit dan porsi komedinya makin minim. Jangan-jangan ….
 
Progres Ernest Prakasa sampai sejauh ini patut gue apresiasi. Dari juara 3, iya juara 3… Ernest memiliki karier dan karya komedi jauh lebih kaya dibandingkan juara 1 dan 2. Namun kecendrungan yang terjadi, Ernest tak melulu berada di bintang, “man of the moon”. Ia rela berada di balik layar menjadi penulis skenario dan sutradara. Uniknya Ernest dan Raditya Dika justru berbanding terbalik. Dulu Ernest dikenal sebagai komika yang memulai stand up comedy tour, Raditya Dika lebih dulu main di layar lebar. Sekarang terbalik. Raditya Dika tengah menyelesaikan tour stand up comedy-nya “Cerita Cintaku”, sedangErnest makin moncer di cinema Indonesia.
 
5. Meskipun tak selucu film Ernest sebelumnya, film ini masih dalam rata-rata atas film komedi Indonesia. Jadi masih layak untuk disaksikan mengisi libur akhir tahun.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.