Konflik dalam Komedi  – Live Chat Penulisan Komedi, Bagian 3

Konflik dalam Komedi  – Live Chat Penulisan Komedi, Bagian 3

Sebenarnya dalam cerita komedi itu, yang bagus, konfliknya dibikin lucu atau tokohnya atau dua duanya, agar menarik?

Dalam cerita komedi, gue melihat ada dua jenis POV. POV orang pertama, dan POV orang ketiga.
POV orang pertama, seperti buku-buku Raditya Dika. Sebagai sosok, Raditya Dika enggak lucu. Begitupun tokoh lainnya. Di bukunya, Raditya menjadi “sosok biasa” aja. Tetapi konflik terhadap suatu hal (bisa orang, kondisi atau bahkan dirinya sendiri) menjadi lucu. Cara pandangnya atau opininya terhadap sesuatu menjadi lucu.

Jika Raditya menjadi karakter dalam film (yang artinya POV orang ketiga), karakternya menjadi lucu. Misalnya menjadi cowok cemen. Karakternya menjadi lucu, caranya dengan menambah porsi 15% atau 25%. Artinya karakternya tidak terlalu lebay dan masih diterima oleh penonton.

Sedang dalam POV orang ketiga, setiap karakter harus punya kepribadian yang unik, tidak harus bertolak belakang. Dengan demikian konflik antar karakter yang muncul menjadi lucu karena perbedaan kepribadian tersebut. Contoh paling sederhana adalah karakter Spongebob, Patrick dan Squidward. Semua punya sifat yang berbeda, namun kelucuan hadir dalam setiap interaksi. Apapun kondisinya.

Boim Lebon, (duet Hilman dalam Lupus) bahkan pernah kasi tau ke gue, bahwa dengan karakter yang kuat, (seperti Lupus, Boim dan Gusur), maka kejadian lucu akan tercipta dengan mudah.
Dengan karakter yang kuat, maka kejadian lucu akan tercipta dengan mudah.

Apakah harus menjadi orang yang pada dasarnya lucu/humoris untuk bisa menghasilkan tulisan yang bisa membuat orang tertawa saat mebacanya?

Iya. Penulis komedi harus mempunyai sense of humor. Itu yang menjadikannya lucu. Meskipun itu berada dalam benaknya, dalam gagasannya. Yang kemudian diwujudkan dalam karya. Buku, film, Stand Up Comedy, dsb.

Meski tidak semua penulis komedi, menjadi “orang lucu dalam tongkrongan”, entah di kelas/kampus atau di rumah. Hilman dan Raditya Dika adalah contohnya. Mereka cenderung introvert. Gue mungkin masuk di dalamnya.

Apakah celetukan komedi harus disesuaikan pembaca? Kadang saya memberi celetukan yang menurut saya lucu, tapi enggak lucu ternyata bagi yang lain. Nah, gimana ya cara bikinnya agar sesuai dengan semua pembaca?

Pertama, lucu atau enggaknya sebuah karya, tergantung pada audiens, pembacanya atau penontonnya. Sebagai penulis, kita hanya bisa meraba, “kayaknya ini lucu deh”. Kita tidak bisa bilang “ini lucu menurut gue”.

Lucu itu ada di penilaian pembaca.
Bagaimana kita tahu lucu atau enggak?

Dalam stand up comedy, ada acara open mic, dimana komika menyampaikan materi di depan penonton kafe untuk tahu ini lucu atau tidak. Ada tawa yang bisa terdengar.
Berbeda dengan tulisan. kita enggak tahu respon pembaca secara langsung. Caranya ya, kita kasi naskah kita ke orang dan kita liat reaksinya / komentarnya. Biasanya gue kasi ke bini.

Atau kita share di media sosial, lalu liat emoticon yang diberikan netizen. kalo ada emoticon Hahaha, berarti emang lucu. Karena untuk kasi emoticon Hahaha, orang harus klik dua kali, dibandingkan dengan emoticon “Like”

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.