Raditya Dika atau Pidi Baiq – Live Chat Penulisan Komedi, Bagian 5

Raditya Dika atau Pidi Baiq – Live Chat Penulisan Komedi, Bagian 5

Kak, kenapa saya kalau nyetatus banyak yang mengatakan gaya ceritanya lucu, tapi ketika saya mulai nulis di word, enggak bisa … Rasanya seolah banyak batasan dan aturan gitu kalau nulis di word. Kenapa, ya?

Jawabannya gampang copy paste dari status ke MS Word. Atau Bayangkan MS Word adalah Medsos

Jawaban lainnya, mungkin ketika kita buka MS Word, kita lebih punya “beban” daripada ketika nulis status. Beban itu kan sebenarnya ada di benak kita sendiri, bukan di tampilan di monitor laptop.

Kenapa menjadi beban? Batasan dan aturan itu ada di benak kita sendiri.Misalnya ketika di MS Word seolah kita dibebani dengan jumlah halaman, jumlah karakter dan sebagainya.

Siapa penulis komedi kesukaan Mas? Apa alasannya? Pilih Raditya Dika apa Pidi Baiq?

Ini Soal Selera. Gue pernah baca keduanya. Begitu juga dengan filmnya. Gue bahkan sempet nonton premiere film Raditya Dika di salah mall di Yogyakarta. Jauh sebelum Dilan dan Milea, gue juga nonton film Pidi Baiq. Ada yang pernah nonton “Baracas”, ? Tetapi Gue lebih banyak membaca buku Raditya Dika dibanding Pidi Baiq. Jadi sekarang gue lebih suka Raditya Dika.

Gue merasa Pidi Baiq idenya agak absurd. Jokenya Liar. Lucu juga. Namun gue merasa “lebih dekat” dengan Raditya Dika. Melalui buku yang mereka tulis, Gue bisa membayangkan apa yang dilakukah oleh Raditya Dika dibandingkan dengan sang imam besar panas dalam itu.

Selain itu Raditya Dika juga rajin kasih tips penulisan di media sosial, termasuk penulisan skenario. Begitu juga dengan stand up comedy.

Mas, jadi musti punya bakat atau jiwa melucu ya mas, utk menulis cerita komedi?

Jawabanya ada di sense of humor si penulis. Bagaimana peristiwa yang biasa saja bagi orang lain, tetapi bisa menjadi materi komedi bagi penulis komedi.

Salah kaprahnya, penulis komedi sering dianggap bisa melawak di tempat tongkrongan, atau melucu saat rame-rame. Kita lucu melalui karya. Enggak bisa kemudian disuruh lucu pas ketemu.
Tukang ojek kalo dari kamar tidur ke kamar mandi ya jalan kaki, enggak naik motor.

Saya baca buku My Stupid Boss, Fan’s Stories kok nggak sampai ketawa guling-guling ya? Ya paling mesem aja. Tapi kalau baca komen di grup ini kadang bisa ngikik saking lucunya. Padahal, tak pikir, komen itu hanya sebaris loh dan tidak ribet ada ceritanya dulu. Apa itu berarti ‘tingkat kelucuan’ juga tergantung kedekatan hati? #Nyambunh nggak ya pertanyaanny?

Seberapa dekat cerita di sebuah buku nyambung dengan dunia pembaca, misal dalam “My Stupid Boss”, kita juga punya bos yang sama-sama stupid.

Mas, apakah menjadi humoris itu bisa dipelajari?

Bisa. Gue ikut writing camp bareng Trio Lupus (Hilman, Boim, Gusur) Selalu ngikutin tips dari Raditya Dika.
Bahkan gue pernah nonton film, sambil nulis catatan, untuk ngeliat struktur film, bagaimana Act 1, Act 2, Mid Point, Act 3, dan seterusnya.

Memang pas lihat Mas Rio di Komunitas TPY itu tuh kesannya pendiam dan kalem. Pas baca tulisannya di web tpy, jebul komedi semua. Baca pertama yang AADC itu kayaknya. 😁

Memang pendiam kok. Apalagi kalo tanggal tua.

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.