Ada Yang Enggak Nyambung Dari Perayaan Kartini

Ada Yang Enggak Nyambung Dari Perayaan Kartini

Bulan April selalu identik dengan RA Kartini, sebagaimana kita memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April. Meski sebenarnya, gue ngerasa peringatan hari Kartini jauh dari semangat emansipasi wanita itu sendiri. Beneran. Kadang sebuah instansi atau bahkan sekolah meriah memperingati hari kartini setiap tanggal 21 April, tetapi kita harus ingat bahwa Komnas Perempuan, Menteri Pemberdayaan Wanita dan JKT48 bekerja sepanjang tahun.

Soalnya Cherrybelle udah bubar.

Lomba Busana Daerah

Gue heran kenapa Hari Kartini diperingati dengan ritual yang enggak nyambung sama sekali. Misal ada yang ngadain lomba busana daerah. Jaman gue sekolah, ada lomba baju daerah yang dikuti perwakilan setiap kelas. Buat apa coba?

Kartini pake baju kebaya sama sanggul karena itu baju sehari-hari seorang putri bangasawan yang dipake di jamannya. Bayangin kalo misalnya Kartini itu seorang lady rocker yang lagu-lagunya menyuarakan emansipasi. Kelak setiap Hari Kartini, para murid SD pake baju gothic, item-item, pake rantai di mana-mana dan mengacungkan tiga jari.

“Wuih, dandangan keren lu sob, mo nonton konser apaan? Purgatory, Burgerkill atau Seringai?
“Enggak sob, ini mo kartinian di balai kecamatan”

Aneh banget.

Bayangin kalo Kartini jadi Volksraad atau Dewan Rakyat jaman penjajahan Belanda. Sama kayak anggota DPR jaman sekarang. Bisa jadi saat peringatan Hari Kartini, enggak ada wanita Indonesia satupun yang masuk kerja. Bukankah sering kita baca berita ada banyak anggota dewan yang bolos dari sidang paripurna.

Bahkan pernah di sekolah dulu ngadain lomba bikin nasi tumpeng antar kelas. Absurd banget. Kalo mo emansipasi, bikin lomba buat murid cewek tapi bukan kerjaan domestik macam masak nasi. Kreatif dikitlah, misal lomba panjat pinang. Setelah manjat di atas, lalu biki nasi tumpeng juga.

Kartini di masa kecilnya memperoleh pendidikan sistem Belanda karena dia seorang anak bangsawan. Letak perjuangannya dimana? Coba bandingin ma anak di propinsi banten yang harus berjuang dengan gelantungan di jembatan yang mo roboh. Atau anak di pedalaman indonesia timur yang harus naik turun gunung bahkan nginep di sekolah buat UN?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Saya, Kartini. Review Habis Gelap Terbitlah Terang #34 | nroshita

Kalo gue nanya Kartini, kita semua pasti inget buku “Habis Gelap Terbitlah Terang“. Tapi gue enggak yakin kalo kita semua pernah baca buku itu. Ini lah salah pendidikan di Indonesia, cuman dihapalin tapi enggak masuk hati ma kepala. Setidaknya gue sendiri.

Kartini nulis surat ke temennya di Eropa, dibukukan setelah kematiannya dan akhirnya diangkat jadi pahlawan nasional. Sederhananya gitu.

Oke dia mendirikan sekolah putri pada usianya 24 tahun. Tapi kita mengenal karena surat-surat yang dikiriman ke temen eropanya, Rosa Abendanon. Pemikirannya yang tertuang di suratnya dinilai melampui jamannya. Pertanyaannya benarkan demikian?

Kontroversi

Ada sebuah kontroversi tentang surat-surat kartini. Setelah Kartini wafat, J.H. Abendanon membukukan surat-surat R.A Kartini. Buku berjudul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya), diterbitkan pada 1911. Ada kecurigaan J.H. Abendanon, saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, merekayasa surat-surat Kartini demi kepentingan pemerintahan kolonial menjalankan politik etis.

Kontroversi lain, ketika Kartini mendirikan sekolah putri pada tahun 1903-1904 dan mencoba berjuang mengenai emansipasi wanita, di ujung barat Nusantara, seorang wanita berjuang mengangkat senjata melawan Belanda. Dia lah Cut Nyak Dhien yang memimpin pasukannya berperang melawan Belanda di pedalaman Aceh pada 1899. Tahun ini merujuk pada tahun kematian Teuku Umar, sang suami yang juga melawan Belanda, Artinya pada 1880, ketika mereka menikah, Teuku Umar telah mengizikan Cut Nyak Dhien ikut berperang melawan Belanda.

Jauh sebelum kartini menulis surat kepada teman eropanya, sosok wanita lain telah menunjukkan emansipasi secara nyata di medan perang.

Pertanyaannya : Bagaimana kita kita usulkan ke pemerintah untuk memperingati hari Cut Nyak Dhien dan menjadikannya hari libur nasional. Termasuk juga Hari Kartini. Lumayan bisa nambah liburan.
Ya, inti tulisan ini … kenapa enggak dibikin lari libur sih?

note : gambar WPAP Ibu Kartini diambil dari karya sohib gue, Dhanan Arditya di webnya

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.