Bupati Klaten dan Cerminan Demokrasi Kita

Bupati Klaten dan Cerminan Demokrasi Kita

Bupati Klaten (dan juga pejabat publik lainnya) lahir dari sistem politik demokrasi. Ada proses bernama pemilu, pilpres dan pilkada. Jadi bupati itu pilihan rakyatnya sendiri. Bukan hadiah Chiki.

Kebayang enggak kalo gue beli Chiki di warung karena tertarik tulisan “berhadiah” di kemasannya.
“Bu, beli Chiki ya …”
“Mau yang rasa apa?”
“Hmmm… Chiki rasa keju, Bu. Lengkapnya rasa kejujuran. Maklum, Bu, banyak pejabat publik yang terlibat korupsi.”
“Bisa ae, stempel KPK”

Kalo pun ada hadiah di Chiki ya cuman barang remeh, seperti mainan kecil, stiker tatto atau kartu mainan. Enggak mungkin isinya kartu bebas penjara. Kalo ada, ntar Chiki bakal langka di warung dan minimarket. Udah diborobg ma koruptor.

Demokrasi dan Pemilihan Foto

Kaesang Takut Logo Yang Ayam Klaten Diganti, Sindir Bupati Klaten?

Pejabat publik, baik eksekutif maupun bisnis, eh eksekutif maupun legislatif itu dipilih langsung oleh rakyatnya sendiri. Selama rakyat punya hak suara dan menyalurkan hak suaranya, itulah pilihan rakyat. Bupati Klaten ya dipilih ma orang-orang Klaten. Bukan orang-aring. Susah harus keluar botol dulu.

Jadi untuk bisa dipilih oleh rakyat, maka kampanye Рkhususnya pamer foto di ruang publik Рmenjadi suatu keharusan.  Bahwa bantuan hand stabilizer, atau apapun itu, ditempelin stiker fotonya juga harus dipahami sebagai untuk melanggengkan kekuasaan. Bahkan dengan menumpul stiker bantuan kemensos yang ada di botol hand stabilzer itu. Belum lagi dengan wajah/tulisan bupati di bantuan masker, beras, buku pelajaran, mobil ambulance dan sebagainya. Dan Klaten mendapat julukan kota seribu baliho bupati. Toh, saat pilkada yang dihadapi pemilih adalah surat suara dengan foto calon bupati.

Selanjutnya, Netizen membuat kelakar dengan menaruh foto bupati di sejumlah produk, dari tissu magik, aat kontrasepsi, tatto, peringatan pemerintah di bungkus rokok. Dan trending lah #bupatiklatenmemalukan di media sosial.

Kembali sistem politik Indonesia (damn, ini kayak nama mata kuliah di Fisip/fisipol). Kita akan melihat kualitas pemimpin yang lahir dari bilik suara adalah cerminan dari pemilihnya. Makanya gue punya ide, foto bupati yang ada di kantor bupati dan kantor dinas diganti ma cermin. Sehingga rakyat bisa bercermin, siapa mereka, siapa pemimpin mereka.

Demokrasi dan Beli Chiki

Jangan sampai trending Twitter kemarin hari justru jadi suatu pepatah, Buruk muka cermin dijual. Trending #bupatiklatenmemalukan di media sosial menurut gue justru memalukan pemilihnya sendiri. Lha pas Pilkada Bupati Klaten, kalian yang posting tagar tersebut pada kemana? Ke warung beli Chiki?

“Bu, beli Chiki ya …”
“Ngg.. tapi jangan makan Chiki sekarang, ya.”
“Kenapa, Bu?”
“Kalo makan sekarang kan belum waktunya buka”
” Bisa ae, lidi lontong.”

Parahnya selama 20 tahun, pucuk pimpinan di Klaten cuman berkutat di dua keluarga saja. Seolah-olah dua keluarga ini cuman main suit aja buat nentuin siapa bupati siapa wakilnya. Bayangin 20 tahun, hampir sama dengan usia reformasi di Indonesia. Ibarat kata, gerakan reformasi di Klaten itu cuman jalan di treadmill aja. Engggak kemana-mana.

 

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.