Kegagapan (ber)Sekolah Online

Kegagapan (ber)Sekolah Online

Minggu-mingu ini gue sedang merasa kesel. Anak gue, kelas TK B, sekarang sibuk sekolah online. Gue kesel karena gue gagap dengan sekolah online. Bukan cuman anak gue yang harus belajar, gue juga. Gue harus siapin laptop printer, sejumlah aplikasi sampai ekstra kuota.

Bayangin aja, dulu pulang kerja gue bisa istirahat atau main dengan anak. Sekarang pas pulang kerja; tiba-tiba istri gue langsung minta gue ngeprint sejumlah materi ajar. Berikutnya nemanin anak ngerjain tugas. Mewarnai, menulis huruf sampai mengunting dan menempel.

Adaptasi Sekolah Online

Gue rasa, bukan cuman gue yang harus beradaptasi dengan sekolah online. Guru dan murid beradaptasi dengan kegiatan belajar mengajar secara online. Keduanya sama-sama ngeliat video, dari badan ke atas. Bisa jadi guru dan murid sama-sama enggak pake celana.

Proses belajar mengajar sekarang dilakukan dengan aplikasi online meeting atau online classroom. nAda sejumlah aplikasi yang digunakan seperti Zoom, Google Meet, dan XNXX.

Iya, XNXX. Mereka belajar menahan hawa nafsu.

Bukan cuman proses belajar yang berubah, jangan-jangan tawuran pun juga jadi beda. Jaman dulu, anak sekolah tawuran seru. Sambil muter gesper yang ujungnya Ujung Kulon, eh ujungnya gesper. Mereka nantang, “Anak sekolah mana, lu?”. Sekarang kalo tawuran, beda. Mereka nantangin, “Anak aplikasi mana lu?”

Bukan cuman murid bandel yang akan gagap dengan tawuran di era sekolah online, murid yang males pun bakal tergagap saat ngerjain PR. Dulu, murid pemalas menyalin PR temennya di kelas sebelum pelajaran. Sekarang, dengan sekolah online, murid pemalas melakukannya dengan screenshot PR temennya.

Oya, gue jadi kepikiran, apakah selama sekolah online ada PR? Kalo biasanya PR kan dikerjakan di rumah, apakah di masa sekolah online ini, PR dilakukan di Sekolah? Siapa tahu kan dibalik gitu.

Gagap Teknologi

Untung aja, saat gue sekolah atau kuliah enggak ada kuliah online. Oya, gue kuliah saat peralihan Presiden Soeharto ke Presiden Habibie. Gue takut kuliah online karena gue ini gaptek, gagap teknologi. Saat temen-temen gue udah bisa internetan. Gue enggak tahu sama sekali. Bahkan untuk Googling sekalipun, gue harus nyari dulu di Google.

Proses memulai pembelajaran pun berbeda, antara kelas klasikal atau tatap muka dengan kelas online. Dulu, setelah mengucapkan salam, guru membuka kelas dengan mengucapkan, “Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita lanjutkan pelajaran, buka halaman 27”. Sekarang, dengan kelas online, guru membuka kelas dengan cara sedikit berbeda, “Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita lanjutkan pelajaran, buka halaman https://banksoal.belajar.kemdikbud.go.id/Evaluasi/GuidedLearning?kelasID=123&mataPelajaranID=3368&fbclid=IwAR23RYHvvU2lmHyxHQXdu6cziOU_7KRjA0Pemn7OS77wwO30LXupJaRyb9g”

Kesel lagi, tiba-tiba ada murid nanya, “Bisa diulangi lagi, Pak Guru?”

Proses absensi pun bakal jadi beda. Sebenarnya namanya yang tepat adalah presensi. Dulu  guru ngecek presensi dengan manggil siswa satu persatu. Lalu siswa nunjuk tangan. Bahkan jaman kuliah pun, masih ada dosen yang ngelakukan presensi model gitu.
“Agus?”
“Hadir.”
“Budi?”
“Hadir”.

Jaman sekarang, guru ngecek presensi dengan ngeliat tab Partisipants di aplikasi online meeting atau online classroom. Guru mengecek nama partisipan, satu persatu juga. “Agus, active. Budi, active. Chandra? Chandra? … Woi Chandra, anak aplikasi mana lu?”

Bukan kenapa-kenapa sih, takut aja guru kebawa emosi, kayak anak sekolah tawuran. “Woi Chandra, anak aplikasi mana lu?” sambil tangan-tangan muterin kabel mouse.

Fenomena Global Sekolah Online

Untung aja, sistem belajar online atau jarak jauh ini dilakukan pada saat sekarang, ketika internet mudah diakses. Bayangin jika belajar online dilakukan di jaman Kerajaan. Jaman sekarang, kirim tugas, tinggal kirim email. Jaman kerajaan, kirim tugas, kirim batu relief. Misal ada orang tua nanya anaknya yang sedang mahat batu, “Nak, kamu ngerjain apa?”
“Ngerjain tugas sekolah, pak. Maklum kelas jarak jauh.”
“Batu segini besar gimana kirim ke sekolah, Nak?”
“Tenang, Pak. Nanti batunya dikirim pake santet.”

Fenomena sekolah online ini enggak cuman di Indonesia doang, Semua murid sekolah di dunia pada sekolah online. Untuk mencegah penyebaran Corona yang telah menjadi pandemi global.  Tetapi tidak semua negara siap dengan sekolah online, karena infrastuktur Teknologi Informasi dan Komunikasinya beda beda. Ambil contoh di tiga negara, yakni Amerika, Jepang dan Indonesia. Setelah menjalani proses sekolah online, murid-murid di ketiga negara tersebut menunjukkan proses  dan hasil belajar yang berbeda. Anak Amerika bikin aplikasi android. Anak Jepang bikin mesin robot. Anak Indonesia bikin repot kedua orang tuanya.

Iya, sama kayak gue yang harus ngeprint tugas sekolah anak gue, dan istri gue yang selalu online buat update tugas dan mengirimkannya ke WA Group Kelas TK B. Repot.

Gaya Guru Sekolah Online

Namun kerepotan gue dan istri gue belum apa-apa dibandingkan dengan guru yang harus mendatangi rumah murid satu persatu. Guru tersebut melakukan hal tersebut karena muridnya tidak memiliki akses internet. Lingkungan tempat tinggal yang berbukit-bukit menjadikan guru harus ♪♫mendaki gunung, turuni lembah, sungai mengalir indah ke samudra ♪♫.

Nah, itu gurunya Ninja Hatori.

Meskipun dilakukan secara online, guru bisa memberikan pertanyaan ke muridnya. Bahkan guru bisa bergaya ala VJ, Video Jockey ala MTV. “Demikian kelas online pada hari ini, jangan lupa untuk mengumpulkan tugas lalu kirim ke email saya yang tertulis di bawah ini …. ya di bawah ini”

Ada juga guru yang bikin kesel muridnya dengan ngasih kuis dadakan. Iya kuis dadakan ini juga bisa dilakukan melalui online. Caranya guru nunjuk salah satu murid dengan cara mengaktifkan status video dan microphone. Sementara murid lainnya, di-mute. Selanjutnya guru memberi pertanyaan, “Sekarang sebutkan lima nama ikan? Lima saja.” Si murid yang microphone aktif mau enggak mau harus menjawab, “Ikan Hiu, Ikan Paus,Ikan Lele, Ikan Gurame, Ikan Kon, eh Ikan Tongkol.”
Sang guru tersenyum puas sambil bilang, “Bagus, sana sepeda didownload.”

Akhir kata, sekolah online adalah proses belajar bagi semua. Bukan hanya guru dan murid, tetapi juga orang juga dan juga pemerintah. Menyiapkan sebuah ekosistem yang mendukung sekolah online adalah tugas pemerintah dalam hal ini adalah Menteri Pendidikan. Tetapi jangan lupa juga pendidikan bukan cuman soal menjadi serba online. Ada persoalan yang harus dibenahi juga. Jangan sampai ruang-ruang digital, seperti Ruang Guru, disiapkan dengan baik, tetapi nasib guru honorer dan guru yayasan malah diabaikan.

Related Post
Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Read more

Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.