Sheila on 7, Ari Lasso dan Perilaku Bermedia

Sheila on 7, Ari Lasso dan Perilaku Bermedia

Beberapa waktu yang lalu, sebuah stasiun televisi menayangkan konser musik live dari salah satu band terpopuler di Indonesia, Sheila on 7. Jauh sebelum tayang, stasiun tersebut juga kerap menayangkan promo ad di sela-sela iklan komersil yang berputar. Alhasil acara konser tersebut cukup mendapatkan perhatian bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi generasi yang dekat dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Akhdiyat Duta Shampo Lain, eh Akhdiyat Duta Modjo.

Tak lama kemudian, stasiun televisi yang lain juga menayangkan konser musik. Kali ini yang tampil adalah Ari Lasso, solois yang dulunya vokalis dari band Dewa 19. Perjalanan musik Ari Lasso, baik solo maupun band, memang menarik untuk diikuti. Bahkan ketika dikeluarkan dari Dewa 19 oleh Ahmad Dhani, Ari Lasso masih mencoba untuk meniti karir bermusik dengan berduet dengan musisi lainya. Sebut saja Melly Goeslow Potret, Ricky Five Minutes, hingga Bunga bukan nama sebenarnya, eh Bunga Citra Lestari.

Namun bukan Sheila on 7 atau Ari Lasso yang bakal menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini. Kan dari judul udah bisa kelihatan. Perilaku masyarakat Indonesia dalam bermedia tak kalah menariknya dibandingkan mendengarkan lagu-lagu mereka berdua. Eh, berlima. Ari Lasso, Duta, Eros, Adam dan Brian. Iya, lima orang.

Secara umum, seseorang yang menikmati sebuah media disebut sebagai khalayak, misalnya pembaca surat kabar, penonton televisi, pendengar radio, dan termasuk di dalamnya pendownload film-film bajakan. Karakteristik yang lebih unik adalah khalayak dari media online, atau yang biasa disebut warganet. Kata warganet sendiri diadaptasi dari istilah netizen. Perilaku warganet ini sangat menarik. Mereka bukan hanya mengkonsumsi media, tetapi juga memproduksi kembali pesan di media online sebagai sebuah pesan baru. Contoh sederhana, ada ada pemberitaan di media online mengenai Lucinta Luna … atau Ahmad Fatah, ya?

Warganet bisa membuat berita ini viral dengan memposting ulang link berita tersebut di media sosial. Ada juga yang membuat meme hingga video parodi tentang Lucinta Luna ini. Sampai ada yang juga bikin tebak-tebakan tertema Lucinta Luna. Tebak-tebakannya gini, “Apa persamaan Lucinta Luna dengan Martabak Telur Spesial? … Persamaannya Lucinta Luna dan Martabak Telur Spesial adalah sama-sama telurnya dua.”

Kembali ke Sheila on 7 dan Ari Lasso, harus diakui keduanya memiliki puluhan lagu yang populer bagi masyarakat Indonesia. Jika mereka konser, para penonton akan bernyanyi bersama, bahkan sepanjang durasi konser. Oya, apa persamaan dan perbedaan lagu-lagu mereka dengan Jepang … Lagu Sheila on 7 dan Ari Lasso menduduki tangga lagu populer, sedang Jepang pernah menduduki Indonesia.

Tak perlu disebutkan satu per satu lagu-lagu yang begitu familiar di telinga kita, baik dari Sheila on 7 maupun Ari Lasso. Untung saja Shiela on 7 tidak atau belum berkolaborasi dengan Ari Lasso. Kalaupun mereka bakal berkolaborasi judul laginya bakal terdengar aneh, seperti Mengejar Sephia, Hampa Terindah yang Pernah Aku Miliki, atau Jadikan Aku Misteri Ilahi.

Perilaku bermedia masyarakat Indonesia itu unik, khususnya menonton konser musik di televisi. Mereka bukan hanya duduk manis di depan televisi. Ada juga yang duduk senderan di depan laptop untuk menonton acara televisi memalui live streaming. Walau yang ditonton sama, sesungguhnya mereka mengkonsumsi media yang berbeda. Satunya media massa, satunya media online.
Yang menarik, ketika ada konser musik di televisi; netizen Indonesia juga meramaikan newsfeed atau linimasa di media sosial. Mereka ramai-ramai membuat kiriman (post) atau kicauan (tweet) di akun media masing-masing. Begitu massif-nya, konser musik di televisi itu kemudian menjadi national trending.

Uniknya, gue sendiri yang udah jarang nonton televisi jadi diingatkan di media sosial tentang konser tersebut. Gue masih ingat benar ketika linimasa facebook dipenuhi oleh status yang terkait dengan konser live musik Ari Lasso di salah satu stasiun televisi. Postingan-postingan tersebut-lah yang membedakan antara penonton televisi dengan netizen. Penonton televisi ansich, tidak akan membuat acara konser tersebut viral. Justru netizenlah yang membuat acara terebut viral karena juga disebarkan melalui media sosial.

Untungnya, perilaku menyebarluaskan tayangan di televisi itu hanya terjadi pada netizen dengan segala perangkat yang dimilikinya: telepon pintar, kuota, signal seluler hingga password free wifi. Enggak kebayang kalau belum ada internet, tetapi ada orang-orang yang ingin memviralkan konser Ari Lasso yang tengah live di televisi. Bisa jadi di pos ronda bakal ada orang memukul kentongan bertalu-talu lalu teriak, “Ada Ari Lasso, ada Ari Lasso, ada Ari Lasso!”
Terus warga berdatangan. Ada yang bawa pentungan, ada yang bawa senter, ada yang bawa surat keterangan berkelakuan baik. Siapa tahu ada yang salah tuduh.
“Pak, Ari Lasso lari ke arah mana?”
“Wah, saya juga enggak tahu.”
“Lalu … kenapa Bapak memukul kentongan di pos ronda?”
“Tadi Ari Lasso ada di sini,” jawab petugas ronda sambil menunjuk pesawat televisi di pojokan pos ronda, “Sekarang, saya enggak tahu … lagi iklan.”

Perilaku bermedia, baik media online maupun media massa, telah mengubah kebiasaan masyarakat. Saat SD, gue punya pengalaman unik. Gue sekolah di SD yayasan yang hari Minggunya masuk. Biasa aja sih, sampai Mike Tyson bertanding dan disiarkan langsung oleh TVRI. Saat itu berasa sekolah kosong setengah hari, pada nonton televisi.

Ada temen gue, orangnya pinter banget dan selalu ranking 1 di kelas. Dia datang ke ruang guru dan langsung bertanya pada salah seorang guru, “Pak, pelajarannya dimulai kapan, Pak?”
Sang guru menjawab, “Nanti, Nak … Setelah Mike Tyson meng-KO-an lawannya.”

Pengalaman lain yang gue alamin menunjukkan hal yang sama. Perilaku media mengubah kebiasan masyarakat. Zaman KKN dulu, gue pernah mengundang pertemuan warga pukul delapan malam. Lokasinya di rumah Bapak Dukuh. Tapi semua warga datangnya pukul sembilan malam lebih dua menit. Alasannya nonton sinetron legenda gitu terlebih dahulu. Tahu kan sinetron yang ada adegan orang naik rajawali terbang.

Anehnya, mereka datang selalu pada pukul 21.02. Karena penasaran, gue nanya, “Pak, sinetronnya kan selesai jam 9 malam, dan rumah bapak di ujung desa, kok bisa sampai rumah Pak Dukuh cepet banget?”
“Saya ke sini naik rajawali terbang, Dik?”
Lalu gue nanya ke orang sebelahnya, “Bapak juga?”
“Saya enggak punya rajawali, Dik.”
Gue cuma mengangguk. Lalu bapak itu ngomong lagi, “Tapi saya bonceng sama bapak yang punya rajawali, Dik.”
Satu jam kemudian, ada warga yang datang ke rumah. Seorang bapak-bapak yang masih terlihat muda. Acara pertemuannya juga sudah dimulai dari tadi. Setelah duduk lesehan, bapak muda tersebut menyampaikan permintaan maaf, “Maaf, bapak-bapak semua. Saya terlambat … maklum konser Ari Lasso di televisi baru saja selesai.”

Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di situs Temu Penulis Yogyakarta, pada Februari 2020.

Related Post
Cowok Bego

Banyak orang berpendapat, cowok itu rasional, cewek itu emosional. Dalam ambil keputusan, cowok itu pake pikiran, sedangkan cewek berdasarkan perasaan. Read more

Ironi Kemerdekaan : Kita Merdeka Tetapi …

Merdeka dari penjajahan sudah dikumandangkan oleh pendiri bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 19445. Sehari kemudian konsep sebuah negara mulai Read more

Kelas Menulis Komedi #5 – Bagaimana Membangun Cerita Komedi?

Dalam Pertemuan kelima ini, kita berangkat dengan pertanyaan "Bagaimana Membangun Sebuah Cerita Komedi?". Cerita Komedi, sebagaimana karya fiksi lainnya setidaknya Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.