Review Film Komedi : Hit & Run, Laganya nge-Hit, Komedinya Run

Review Film Komedi : Hit & Run, Laganya nge-Hit, Komedinya Run

imperfFilm Hit & Run diklaim sebagai film dengan genre komedi laga pertama di Indonesia. Setidaknya laman Wikipedia Indonesia menyatakan tersebut. Secara laga, kita bisa mengandalkan Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Sedangkan dari porsi komedi, kita enggak liat ada seorang stand up comedian ada di poster film. Seakan mengikuti trend film komedi itu dimainkan oleh stand up comedian. Padahal menurut gue, enggak juga sih. Loh?

Sinopsis

Cerita Hit & Run berkisah pada Tegar Saputra (Joe Taslim), seorang polisi selebriti yang tampan yang harus menangkap kembali gembong narkoba, Coki (Yayan Ruhiyat). Dalam pengejaran ia harus bekerja sama Liow (Chandra Liow) seorang penipu kelas teri.

Hadir pula Meisa (Tatjana Saphira) sebagai love interest Tegar, dan juga Jefri (Jefri Nichol) remaja tanggung yang mengantar pada perburuan Coki. Dalam perburuan ini, Tegar selalu menyertai dua kameraman untuk meliput sebuah acara televisi, dimana dia sendiri menjadi host Hit & Run.

Laga Versus Komedi, Siapa Pemenangnya

Soal laga, fiks. Kita melihat aksi Joe Taslim dan Yayan Ruhian yang sebelumnya bertemu di film The Raid. Actionnya dapat. Koreografi nya cakep, apalagi pas duet 2 lawan 1, antara Coki dan side kicknya (enggak penting siapa) dengan Tegar. Namun gue ngerasa porsi berantem Joe Taslim terlalu banyak, setidak untuk membandingkan dengan porsi komedinya. Misalnya adegan ke pertarungan klimak dengan ‘Mad Dog’, terlalu banyak dibangun dengan pertarungan melawan centeng kemudian dilanjutkan dengan dua pertarungan sengel, atau pertarungan satu lawan satu.

Berikutnya tentang komedi, beban ini ditanggung oleh Chandra Liow, youtuber yang juga main di sejumlah film. Yang paling gue inget tentu di film Single, dimana dia memerankan “abang-abangan dari gebetan Raditya Dika”.

Tatjana Saphira juga berhasil membawa tawa dengan karakter artis yang lebay, begitu juga dengan Jefri Nichol yang berperan sebagai cowok korban Bucin. Dua peran karakter yang berbeda dengan karakter di film-film mereka sebelumnya. Lalu lupakan peran peran senior Mathias Muchus dan Karina Suwandi yang minim membangun tawa.

Potensi Komedi : Perbandingan dengan Partikelir

Duet Joe Taslim dan Chandra Liaw ini sebenarnya punya potensi komedi yang kuat. Bahkan lebih kuat dari pada duet Pandji Pragiwaksono dan Deva Mahenra di film Partikel.

Gue ngeliat persamaan kedua film tersebut sama-sama mempunyai tema “buddy movie”. Sebuah tema yang jarang atau bahkan belum pernah ada di Indonesia, sampai Pandji Pragiwaksono mengklaim film Partikelir. Kembali ke Hit & Run, pesona Joe Taslim dan Chandra Liaw jauh bertolak belakang daripada duet Pandji dan Deva. Perbedaan inilah yang seharusnya menjadi potensi ledakan tawa tersebut.

Joe Taslim yang polisi muda, teladan dan punya menjadi host untuk reality show di hadapkan dengan Chandra seorang penipu yang sang ibunya sendiri enggak tahu apa pekerjaannya. Dalam beberapa hal Joe dan Chandra sama-sama “pengen tampil”, yang mana seharusnya bertolak belakang.

Potensi kelucuan yang juga lewat menurut gue adalah bagaimana proses keduanya nge-blend menjadi satu tim dengan satu tujuan. Enggak masalah mereka punya motif masing-masing. Inilah yang membuat keduanya kehilangan kesempatan untuk berkonflik sepanjang narasi cerita dan menimbulkan tawa bagi penonton.

Scene-scene Komedi

Gue cukup terhibur saat scene pekenalan dalam mobil, pertarungan Lio yang sok-sokan membantu Tegar, atau saat pengambilan gambar untuk kebutuhan Hit & Run. Yang agak payah tentu adegan Joe Taslim saat menyamar di club malam. Seharusnya scene ini bisa menjadi lucu, namun gue melihatnya kentang banget.

Entah kenapa, di benak gue berpikir, jika peran Chandra digantikan dengan stand up comedian, siapakah yang cocok memerankannya? Babe Cabita mungkin bisa, atau Dodit Mulyanto?

Mungkin kesimpulan review ini, format buddy movie yang menghadirkan dua karakter, satu misi misi dan sejuta tawa, seperti tidak cocok untuk film nasional. Bukankah budaya kita lebih menekankan kebersamaan dan gugup rukun (sak lawase) atau dari seluruh anggota komunitas, bukan cuman dua orang saja.

 

Related Post
Review Film Komedi | Pizza Man, Hangover dengan cita rasa lokal

Cerita dimulai dari sebuah rumah yang dihuni oleh tiga cewek sebaya, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila)  dan Merry (Yuki Read more

Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

Nonton film karena Dodit Mulyanto. Salah satu komika atau stand up comedian yang populer di negeri ini. Jadi sudah dapat Read more

Imperfect : Ketakutan Gue ke Ernest

Apakah Imperfect merupakan film komedi? Iya, Sinopsis film ini situs/ aplikasi Cinema 21 tertulis genre drama, komedi. Bagi gue ini Read more

Review Film Komedi : 21 Jump Street, Ketika 2 Polisi Muda Kembali SMA

Begitulah template Buddy movie, dua orang yang jatuh bangun menyelesaikan satu misi. Kelucuan terbangun dari konflik kedua orang tersebut. Bahkan Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.