Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Review Film Komedi Sabar Ini Ujian : Imun di Tengah Pandemi

Oase Film (Komedi) Nasional

Setelah lama enggak menikmati film, akhirnya gue langganan Disney Hotstar dan nonton salahnya film premiere-nya, Sabar Ini Ujian. Dan inilah review sabar ini ujian. Mungkin ini film komedi Indonesia terbaik di tahun 2020. Alasannya jelas, karena gue lama enggak nonton film di biokop, karena pandemi. Film terahkir yang gue tonton, Toko Barang Mantan, yang diperankan oleh Reza Rahardian.

Film Sabar ini Ujian, adalah film terbaru yang disutradarai oleh Anggi Umbara, yang kita kenal menyutradarai sejumlah series film komedi seperti Comic 8, Warkop DKI Reborn, DOA (Doyok, Otong dan ALi Oncom). Pemeran utamanya adalah Vino Bastian yang peran komedi berhasil membuat gue tertawa di film Talak 3 dan Warkop DKI Reborn. Oya, gue hanya fokus di film komedi ya, meski di Film Srigala Terakhir, peran Vino juga keren.

Film yang juga diperankan oleh sejumlah komika ini menawarkan oase bagi bagi penonton film Indonesia.  Dan Review Sabar Ini Ujian yang membuat gue langganan aplikasi ini. Bukan film Benyamin atau Warkop DKI Reborn (lagi).

Sinopsis

Bagi netizen, “Sabar ini ujian” dikenal sebagai quote yang cukup viral. tepatnya, “Mohon Bersabar. Ini Ujian. Ujian dari Allah” yang dilantangkan oleh MC pernikahan setika seorag mantan berbuat rusuh di pernikahan dan menyebabkan dia diseret dan dihajar massa. Meme atau parodinya kembali populer di awal bulan puasa, ketika

Begitu juga premis cerita ini. Sabar (Vino Bastian) harus menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan sang mantan Astrid (Estelle Linden). Bahkan Sabar sendiri sudah berjanji pada tiga orang sekaligus, Astrid, sahabatnya, Billy (Omesh) dan sang ibu (Widyawati). Persoalannya hadir karena Sabar belum move on dari Astrid, bahkan ia sempat sembunyi dari pernikahannya dengan Astrid, beberapa waktu sebelumnya. Apesnya, video Sabar saat ditampar Astrid di hari pernikahan tersebut menjadi viral dan terus menghantui kehidupan Sabar.
Sabar pun harus bersabar menghadiri pernikahan Astrid dan Dimas (Mike Ethan); dimana keduanya adalah teman SMA Sabar dan juga Yoga (Rigen Rakelka) dan Aldi (Ananta Rispo). Keesokan harinya, Sabar terbangun di hari yang sama dengan hari pernihakan tersebut. Kejadian yang sama terulang di keesokan hari dan hari-hari berikutnya.
Pertanyaan yang muncul bagaimana Sabar harus mengakhiri jebakan time-loop ini. Lalu bagaimana dengan pilihan Sabar untuk mengakhiri hari tersebut, menyatakan diri ikhlas alias sudah move on ataukah menjalin lembar baru bersama Astrid kembali?

Potensi Tawa

Konsep time-loop ini memang hal yang baru bagi perfilman Indonesia, Meski alur seperti ini sudah bisa kita lihat di film Hollywood. Nah, ini lah konser komedi yang ditawarkan dalam film ini. Kegelisahan, keresahan hingga ketakutan Sabar dalam menghadiri pernikahan mantannya yang berkali-kali ini menjadi potensi tawa yang rapat sepanjang awal hingga mid point di film ini. Bahkan sampai aksi absurd dan nekad pun dilakukan.
Duet Rigen dan Rispo memang keren. Gue udah tahu Rispo yang gila di panggung stand up. Tapi Rigen yang persona-nya marah-marah di panggung, kali ini tampil melambai. Tanpa membandingakn gue jadi ingat peran Yusril Fahriza di Cek Toko Sebelah. Gue membayangkan Rigen kayak Ivan Gunawan badan gede tapi melambai. kocak.
Peran Ananda Omesh sbagai side kick juga tampil memukai, dan menjadikan Sabar tetap pada tracknya untuk menyelesaikan persoalannya. Billy adalah orang pertama yang mengetahui persoalan time loop ini. Meskipun Ananda Omesh pernah sukses dengan Xtravagansa, di film ini peran komedi lebih banyakdiperankan oleh Rigen dan Rispo. Keduanya mampu membuat suasana di gedung pernikahan begitu hidup, meski joke CLBK terasa receh di awal, namun kedua mampu mengocok perut dengan kegilaan mereka.
Vino Bastiannya mampu menampilkan tawa di sejumlah scene, terutama ketika ia sudaah berkali-kali lari dari pernikahan itu dengan pergi ke pantai, menjadi polisi, sampai menjadi pendekar. Tentu ini adalah peran yang dimainkan di film-film sebelumnya. Lucunya karena ia sendiri yang memerankannya. Gaya dia kesel setiap pagi karena dalam jebakan time-loop juga membuat penonton (atau gue) merasa tertawa atas penderitaan tersebut. Gaya dia menceritakan kejadian-kejadian juga terasa seakan berdialog dengan penonton.

Dukungan Stand Up Comedian

Selain peran di atas, film ini juga didukung oleh stand up comedian lainnya. Sebut saja Arief Brata, sopir taksi online yang (sok) kaya, Areif Didu sang penghulu, Ence Bagus si office boy, hingga pelayan coffeeshop Neneng. Kalo rumus gue sih sederhana, kalo persona komika di panggung sama dengan peran di film, udah pasti potensi komedi lebih mudah digali. Makanya peran David Nurbianto yang juga hadir di film terasa kaku, karena pesona dia yang betawi nyabak tidak dihadirkan dalam peran kasir minimarket. Mungkin peran David Nurbianto terasa minim, karena jam tayang David di industri film memang paling jarang.

Oya, peran Luna Maya yang sempet curhat, “seberapa besar masalah lu?” membuat gue tertawa. Entah menertawakan peran Tiffany yang diperankannya atau Luna Maya as herself. Begitu juga dengan dengan Dwi Sasono, temen kost yang santuy habis yang seakan meredam emosi Sabar menjalani time-loop. Satu lagi, di film ini gue baru mengenal Anya Geraldine sebagai bintang film, bukan sebagai selebram yang gue enggak tahu apa kontroversi.

Kelucuan juga hadir lewat detail-detail artistik yang muncul di film, misalnya saja nama minimarket tersebut, nama bank dimana Sabar mengambil uang di ATM, tulisan di karangan bunga. Mungkin ada detail lainnya, tapi gue enggak tahu pasti. Butuh konsentrasi.

Rekomendasi

Walau mengusung konsep time-loop, film ini jauh dari kata ngebosenin. Walau setiap hari Sabar mengalami hal yang berulang, narasi film dipadatkan dengan telepon di pagi hari hingga kejadian dia harus belajar memperbaiki kesalahan di hari berikutnya. Di sini peran geng Billy, Yoga dan Aldi menjadi penting untuk mencairkan melalui aksi kocak mereka. Kejadian time-loop hingga midpoint terasa sangat komedik; sampai akhirnya Sabar menemukan cara agar ia bisa menghadari persoalan tersebut. Drama mulai terselip di sini hingga klimaknya ada perspektif lain yang menjadikan time loop ini sebagai kutukan bagi Sabar. Namun demikian sejumlah joke masih terselip di sejumlah scene.

Akhir kata, film ini rekomendasi banget untuk ditonton. Apalagi jika tertawa itu membuat imun kita meningkat di tengah pandemi, yang semoga berakhir. Aamiin.

Related Post
Review Film Komedi : 21 Jump Street, Ketika 2 Polisi Muda Kembali SMA

Begitulah template Buddy movie, dua orang yang jatuh bangun menyelesaikan satu misi. Kelucuan terbangun dari konflik kedua orang tersebut. Bahkan Read more

Review Film Komedi : Hit & Run, Laganya nge-Hit, Komedinya Run

Film Hit & Run diklaim sebagai film dengan genre komedi laga pertama di Indonesia. Setidaknya laman Wikipedia Indonesia menyatakan tersebut. Read more

Cinta Itu Buta : Sukses Dodit di Film Berseting Korea

Nonton film karena Dodit Mulyanto. Salah satu komika atau stand up comedian yang populer di negeri ini. Jadi sudah dapat Read more

Review Film Komedi | Pizza Man, Hangover dengan cita rasa lokal

Cerita dimulai dari sebuah rumah yang dihuni oleh tiga cewek sebaya, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila)  dan Merry (Yuki Read more

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.